Langsung ke konten utama

Kelompok Intoleran di Indonesia Beraksi, Raja Salman Membalasnya dengan Tamparan Keras


Agama apapun di dunia ini selalu mengajarkan tentang kebaikan. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan perilaku jahat kepada para pemeluknya. Kebaikan yang diajarkan di dalam agama-agama itu tidak muncul dari tempat lain melainkan bersumber dari Tuhan sendiri; sebab Tuhan adalah sosok yang Mahabaik dan Mahabijaksana. Tuhan yang Mahabaik dan Mahabijaksana itu menghendaki supaya manusia berbuat baik kepada sesamanya, bukan sebaliknya, melakukan perilaku jahat. Tidak mungkinlah sesuatu yang jahat datang dari Tuhan.

Sayangnya, tidak sedikit juga orang mengenakan jubah agama untuk tujuan yang lain. Demi tujuan yang tidak kita ketahui itu, mereka tega mengumbar kebencian atas nama Tuhan dan agama. Mereka lupa atau secara sengaja melupakan bahwa semua orang sama di mata Tuhan. Padahal, Tuhan tidak mempersoalkan apa agama kita. Asalkan kita bisa melakukan perbuatan baik, kita sudah bisa menyenangkan hati Tuhan.

Itulah yang terjadi di negara kita. Kita sudah sering menerima beragam fitnah, ujaran kebencian, dan tindak kekerasan atas nama Tuhan dan agama. Kenyataan yang pahit itu membuat banyak orang bertanya-tanya, “Kok bisa-bisanya orang beragama melakukan perilaku tidak terpuji itu atas nama Tuhan dan agama? Bukankah Tuhan melalui agama mengajarkan kebaikan?”

Orang-orang yang terjebak pada fanatisme sempit seperti itu menjamur ke mana-mana, bahkan mungkin mereka ada di sekitar kita. Mereka anti terhadap segala kemajemukan di masyarakat. Jika kita melihat kembali kejadian demi kejadian yang muncul belakangan ini, misalnya, tampak sekali bahwa ada orang-orang yang merasa terganggu dengan keberagaman di negara kita. Hal seperti itu jelas mencederai kebhinnekaan yang ada di negeri ini. Padahal, kita tahu bahwa sikap yang seharusnya muncul dari dalam diri kita berhadapan dengan kemajemukan yang ada di masyarakat tidak lain adalah sikap toleransi.

Jangan lupa bahwa Indonesia ini dibangun oleh banyak orang dari berbagai latarbelakang suku, agama, dan ras. Maka dari itu, saya berpikir bahwa merupakan suatu kemunduran jika kita mulai mempersoalkan perbedaan-perbedaan yang ada di masyarakat kita.

Syukurlah, kedatangan Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud ke Indonesia dalam beberapa hari ini membawa suatu wawasan baru bagi banyak orang di Indonesia, terutama bagi mereka yang selama ini berkoar-koar melawan segala kemajemukan di Indonesia.

Seperti kita ketahui bahwa hari ini Raja ketujuh Arab Saudi itu bertemu dengan tokoh-tokoh lintas agama. Di depan mereka, ia mengapresiasi keberagaman yang ada di Indonesia. Pertemuan Raja Salman dengan tokoh-tokoh agama itu jelas merupakan suatu tamparan keras bagi kelompok intoleran di Indonesia. Bahwasanya, seorang Penjaga Dua Kota Suci agama Islam saja tidak anti terhadap adanya perbedaan agama di masyarakat.

Jika Raja Arab saja mau menghargai perbedaan yang ada di masyarakat kita bahkan bersedia mengapresiasi terhadap keberagaman itu, mengapa kita yang ada di Indonesia justru bertindak intoleran terhadap sesama kita hanya karena mereka tidak seagama dengan kita?

Seharusnya, sikap Pemimpin Wangsa Saud itu membuat Anda yang selama ini bersikap intoleran merasa malu. Bayangkan, Raja Salman saja mau menerima perbedaan, padahal ia berasal dari negara Arab yang notabene tempat lahirnya agama Islam, masa Anda yang hanya bertingkah mirip orang Arab sok anti terhadap perbedaan agama? Semoga saja sikap yang ditunjukkan oleh Raja Arab terhadap kemajemukan di Indonesia patut dicontoh oleh setiap orang di Indonesia. Salam sehati-sejiwa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...