Langsung ke konten utama

Kasihan Sekali Fahri Hamzah, Logikanya Terbalik-balik

16

Fahri Hamzah
Kasihan sekali Fahri Hamzah, makin lama makin banyak logikanya yang terbalik-balik. Nalarnya makin menjauh dari alur berpikir normal, yang lazim. Hal ini sangat kentara pada komentarnya terhadap kasus E-KTP yang tengah ditangani KPK, yang melibatkan puluhan anggota DPR dan Mendagri sebelumnya, Gamawan Fauzi.

Mari kita telaah satu persatu dengan menganalisis pernyataan Fahri. Dengan diprosesnya dua terdakwa dalam kasus tersebut, yakni Sugiharto, mantan mantan Direktur Pengelola Informasi Administrasi Kependudukan, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri dan Irman, mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Fahri bilang ketua KPK, Agus Rahardjo, harus mundur.

Alasanya, Agus memiliki konflik kepentingan (conflict of Intertest) atas kasus tersebut. Sebagai mantan Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengadaan Barang dan Jasa dengan Kementerian Dalam Negeri, Agus sangat paham proyek E-KTP. Pada masa itu, kasus-KTP telah audit oleh BPK dan dinyatakan bebas dari korupsi. Menurut Fahri, hal itu aneh. Setelah diaudit dan dinyatakan bersih oleh BPK, malahan dijadikan kasus korupsi setelah Agus menjadi ketua KPK.

Dengan cara berpikir itu, ada setidaknya empat alur pikir Fahri yang terbalik. Pertama, kalau Agus Rahardjo punya kepentingan, katakanlah ia turut korupsi misalnya, seharusnya ia berusaha keras memendam kasus itu. Ia tidak akan mengutak-utiknya lagi karena dia sendiri akan terjerat bersama para terdakwa dan calon terdakwa dari anggota DPR RI. Ini artinya, Agus membuka kasus itu karena tidak memiliki benturan kepentingan. Terbalik ‘kan?

Kedua, jika Agus turut terjerat, sudah pasti beliau akan dicopot dari posisinya sebagai ketua KPK. Ini bisa menimbulkan banyak efek. Karirnya bisa tamat, keluarganya turut menanggung malu, dan sebagainya. Orang waras, yang punya kepentingan, tentu tidak akan melakukan hal seperti itu. Ini artinya, Fahri seolah menyuruh Agus Rahardjo agar mengubah dirinya menjadi orang yang tak waras. Aneh ‘kan?

Ketiga, menyuruh Agus mundur dari posisi ketua KPK karena menangani kasus yang melibatkan dirinya jelas terbalik. Semestinya, permintaan itu disampaikan Fahri apabila Agus terlibat dan terus menghalang-halangi penanganan kasus korupsi E-KTP. Bila keadaannya demikian, barulah nalar Fahri kena. Nah, terbaik lagi nalarnya, bukan?

Keempat, dengan sangat pahamnya permainan banyak pihak pada proyek E-KTP, makaya Agus merasa perlu bertindak. Kalau tak paham, mana mungkin ia bongkar. Keberatan Fahri di sini, sudah diperksa BPK dan dinyatakan bersih. Tidak ada korupsi. Menurut dia, Agus mestinya diam saja. Fahri tidak mau paham bahwa Agus punya tanggung jawab untuk menunjukkan kepada publik, bahwa hasil kerja BPK tidak otomatis sempurna. Terkadang ada lobang yang BPK tidak paham atau malahan dianggap enteng.

Boleh jadi juga Agus sudah menegur hal yang dianggap enteng itu pada saat itu. Cuma, suaranya tak terdengar. Tenggelam pada hiruk pikuknya kerak-kersek bunyi lembaran-lembaran rupiah dan dolar. Inilah yang tak mau dipahami Fahri. Dengan keberatannya yang amat tinggi atas kerja Agus, secara tak langsung ia menunjukkan bahwa ada kepentingannya yang terganggu dalam pembongkaran kasus tersebut. Ini sebetulnya yang perlu dijelaskan kepada publik. Nah !

Kalau nalarnya jalan, semestinya yang dilakukan Fahri menyuruh mundur semua anggota DPR yang disebut-sebut terlibat seperti disarankan oleh Donal Fariz, Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW. Tapi ini, tidak dilakukan Fahri. Malahan terkesan membela teman-temannya yang diduga terlibat. Jelas aneh ‘kan?

Makna kekagetan Jokowi
Lebih aneh lagi adalah penafsirannya terhadap rasa kaget Presiden Jokowi ketika Fahri menceritakan apa yang diketahuinya mengenai kasus E-KTP. Dikatakannya, Jokowi kaget. “Banyak yang Presiden itu belum tahu, belum mendapatkan laporan rupanya, jadi dia kaget juga dengan keterangan yang saya sampaikan itu,” ujarnya.

Fahri juga tampak sangat gembira melihat respons Jokowi mengenai gagasannya mengadakan hak angket atas kasus tersebut. Dia bilang Jokowi tidak memermasalahkan. “Ya, beliau kan Presiden semakin terang makin positif aja melihatnya. Jadi tidak ada masalah,” tuturnya kepada media.

Membaca tanggapan Fahri tersebut orang makin tak mengerti jalan pikiran Fahri. Rasa kaget hanya dimaknai sama dengan harapannya. Sama sekali dia tidak berpikir bahwa rasa kaget Jokowi bisa beragam. Bisa berarti bahwa Jokowi kaget mengetahui terbalik-baliknya logika Fahri. Jokowi kaget karena makin paham bahwa pengertian Fahri atas apa yang disebutnya sebagai conflict of Interest seperti siang dan malam. Jokowi kaget karena paham bahwa gagasan pengadaan hak angket yang diusulkan Fahri makin memerlihatkan ketakpahamnya tentang hak angket.

Jika dibahasakan secara lugas, rasa kaget Jokowi mungkin berarti begini: Fahri, anda itu wakil ketua DPR RI, tapi cara berpikirmu terbalik. Kalau Agus Rahardjo terlibat semestinya bukan membuka kasus itu, tapi menguburkannya dalam-dalam di bawah permukaan bumi kesadaran orang.

Mungkin juga Jokowi bilang, Fahri saya kaget karena kamu sepertinya kebakaran jenggot bila kasus E-KTP dibuka kepada publik. Mestinya kamu itu bersyukur dan mendukung. Bukannya menentang. Ada apa denganmu sebenarnya Fahri, sehingga anda mati-matian menghalangi pembongkaran perampokan uang rakyat?

Atau mungkin Jokowi berkata: Fahri jangan bingung kalau anggota DPR atau siapa pun pelaku korupsi dibongkar KPK. Itu tugas mereka. Itu yang saya janjikan dulu ketika saya kampanye. Saya tidak mau berhenti pada orasi. Tapi harus sampai pada aksi. Saya terus berjuang agar uang rakyat hanya digunakan untuk membangun kepentingan rakyat. Bukan yang lain! Oleh sebab itu, kita harus terus kerja, kerja, dan kerja! Bukan orasi, orasi, dan orasi! ***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...