Langsung ke konten utama

Tidak Adanya Agenda Raja Salman Bertemu Rizieq, Ini Cara Simpatisan FPI Menghibur Diri

By on Sosbud

Bagi sebagian orang, kedatangan Raja Salman ke Indonesia merupakan moment yang menarik dan membahagiakan, tetapi sebagian lagi menganggap hal itu biasa-biasa saja dan tidak istimewa. Euforia tentang kedatangan raja Arab itu sudah terjadi jauh hari sebelum tanggal 01 Maret yang merupakan hari H kedatangan King Salman tersebut. Tidak terkecuali para simpatisan FPI, karena ada isu di tengah mereka bahwa akan ada agenda pertemuan antara Imam Besar mereka yaitu Habib Rizieq dengan Raja Salman

Tentu saja pertemuan antara Rizieq dan Raja Salman ini bagi mereka sangat penting, karena dapat meningkatkan eksistensi mereka. Dengan demikian mereka berharap akan semakin banyak masyarakat Indonesia bersimpati dan mengagumi ormas ini dan pimpinannya. Harapan itu sungguh teramat besar tumbuh dan berkembang di hati sampai-sampai membuat mereka susah tidur karena membayangkan serta memikirkan pertemuan itu.

Isu itu diperkuat dengan adanya pemberitaan di media online tentang kesanggupan Habib Rizieq penuhi undangan Raja Salman (https://nasional.sindonews.com/read/1184103/15/habib-rizieq-akan-penuhi-undangan-raja-salman-1488281970)
Dalam pemberitaan di media online tersebut ditulis:
Saat di Jakarta, Raja Salman akan menyambangi gedung MPR/DPR dan Masjid Istiqlal. Tempat selanjutnya yang akan didatangi yakni di Istana Bogor.

Dalam kunjungannya ke DPR-MPR, dikabarkan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shibab dan para ulama GNPF MUI turut diundang.

“Ya benar. Kami diundang oleh DPR yang sudah berkoordinasi dengan protokoler Raja Salman. Tadi malam undangannya diterima. Insya Allah hadir,” kata pengacara Habib Rizieq, Kapitra Ampera, Selasa (28/2/2017).

Ternyata dalam media online ini ada sedikit perbedaan antara Judul dengan isi beritanya, isi berita tersebut menjelaskan bahwa yang mengundang Habib Rizieq adalah DPRnya, bukan Raja Salman.
Dan ternyata saat tanggal 01 Maret Raja Salman sampai di Indonesia, memang tidak ada agenda bertemu Habib Rizieq. Logikanya, kekecewaanpun pastinya langsung dirasakan simpatisan FPI. Kekecewaan itu bertambah berat setelah beredar luas di internet, foto Ahok yang ikut menjemput Raja Salman di bandara Halim Perdana Kusuma dan berjabat tangan dengan Raja Salman.

Sebagian dari mereka akhirnya menghibur diri sekaligus melampiaskan kekecewaan dengan berhalusinasi seperti terlihat ditulisan pada gambar berikut ini:
Selain itu mereka juga menghibur diri dengan meyakinkan hati dan pikirannya bahwa foto-foto yang menampilkan Ahok bersalaman dengan Raja Salman adalah hoax atau editan.

Tentu saja sangat manusiawi jika kita telah mengharapkan sesuatu, tetapi pada akhirnya tidak kesampaian, akan muncul kekecewaan. Tetapi sebagai manusia kita juga harus sadar bahwa tidak semua keinginan yang kita punya akan terpenuhi.

Ada beberapa hatersnya Ahok mengumpat tentang ikutnya beliau menjemput raja Salman, kenapa pak Jokowi mengajak Ahok si penista ikut menemui raja Salman, kenapa tidak mengajak Wapresnya saja, atau ketua DPR. Penjelasan yang masuk akal adalah karena Raja Salman Mendarat di Jakarta, sebagai tuan rumah dari Jakarta yaitu Gubernurnya, untuk menghormati tamu, Ahok tentu saja ikut menyambut kedatangannya. Kalau Raja Salman mendarat di Semarang Jawa Tengah, tentu saja Ahok tidak akan ikut menyambut di Bandara semarang, karena itu tugasnya Ganjar Pronowo.

Untuk Ahok sendiri sebenarnya tidak menjadi persoalan kalau dia tidak bertemu raja Salman, karena bukan wataknya dia untuk mencari muka.

Kebencian memang sangat berpengaruh terhadap kejernihan pikiran seseorang, karena bila hati telah di rasuki rasa itu, apapun tindakan si subyek akan terlihat buruk, walaupun itu tindakan yang positif

Best Regards

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...