Langsung ke konten utama

Juliaman Saragih : Aksi 313 Kontraproduktif



Jakarta – Pengamat politik sekaligus Ketua Nation and Character Building Institute (NCBI), Juliaman Saragih mengatakan aksi 313 itu berpotensi kontraproduktif.

Sebab, masyarakat memiliki tingkat kejenuhan terhadap aksi demonstrasi yang terus berlangsung dengan tuntutan yang berulang-ulang.

“Sepantasnya juga dipahami tingkat kejenuhan masyarakat terhadap perulangan aksi tersebut, yang akhirnya berpotensi kontraproduktif terhadap tuntutan dan target rencana aksi tersebut,” tegas Juliaman kepada Kabari.co, Minggu (26/3/2017).

Sejauh ini bisa kita lihat bahwa rangkaian Aksi Bela Islam syarat dengan kepentingan Politis yaitu memenangkan salah satu Paslon pada Pilkada DKI Jaya, diakui atau tidak di akui.

Namun apabila benar-benar membela Agama Islam dan Al-Quran tidak ada kepentingan poltik semua umat Islam sependapat. Sayangnya aksi ini berbeda, karena berbicara kepentingan dalam Pilgub DKI 2017, maka didalamnya pasti ada negoisasi dan kesepakatan, jangan-jangan ada pihak yang mengambil keuntungan dari dana yang dikucurkan untuk aksi ini.

Sudah seharusnya kaum muslimim cermat, jangan sampai uang gak dapat tapi kena getahnya. Perlu diingat juga bahwa Pro Ahok dan Pro Anies didalamnya ada umat islam, sehingga jangan mau dipecah belah sesama muslim dengan tema aksi 313 ini.

Ahok sudah di proses dan sekarang sedang melaksanakan sidang, biarlah undang-undang yang mengawal serta percayakan kepada pengadilan, dipenjara dan tidak dipenjara hanya tinggal menunggu waktu bukan ditentukan oleh Aksi 313.

Sehingga percuma saja mengikuti aksi 313 yang dibungkus dengan kemasan membela Aksi Bela Islam dan Al-quran, padahal nyata-nyata terkait Pilgub DKI Jakarta 2017. Ingat siapapun Gubernurnya mari kita dukung dan selamatkan Indonesia dari aktor-aktor yang mendompleng dan membocengi aksi 313 untuk kepentingan individu dan hanya membuat mereka kenyang serta mengambil keuntungan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Dalam Beragama, Rujukan Pertama Adalah Google Terakhir Al Qur’an

By Rohmat Tri Santoso   Sebenarnya, kita adalah makhluk-makhluk bodoh yang mau-maunya memiliki agama. Untuk menjadi pengikut pada suatu agama, termasuk Islam. Kita harus memutar otak dua puluh empat jam non stop. Merenungi. Menghayati, dan memaknai ajaran-ajaran dalam agama tersebut. Beragama. Berarti kita harus mengulik. Membedah rahasia tuhan. Menyingkap tabir yang tertutupi. Menemukan rumus-rumus tuhan. Demi mengenalnya lebih jauh. Demi memantapkan dan membimbing jiwa kita mengahadapi hidup yang njelehi ini. Cusssss. Gedeblug…. Tuhan menurunkan kitab suci pembimbing manusia ke bumi. Untuk menemukan rumus-rumus tuhan. Manusia perlu menelaah kitab suci sebagai buku manual untuk lebih dekat dengannya. Untuk mengetahui mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah. Tapi ternyata eh ternyata. Kitab suci itu terlalu kecil sebagai sumber pemaknaan tuhan. Manusia tetap harus memutar otaknya, m...