Langsung ke konten utama

Antara Pilkada, Bumi Datar dan Illuminati

By
 
Saat pelaksanaan Pilkada, fenomena yang banyak terlihat adalah dukung mendukung pasangan calon pemimpin dengan cara membenci. Pasangan yang didukung akan dipuja dan dibela mati, lalu pasangan lainnya siap-siap dimaki.

Banyak dukungan yang diberikan membabi buta, dan siapapun yang mengkritik calon yang dia dukung, maka orang itu akan jadi musuh bersama (ini gaya pertemanan jaman remaja nih). Bersamaan dengan itu, ketika kita mendukung salah satu pasangan calon pemimpin, kita juga lebih senang melihat kekurangan calon lain yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan dia sebagai kepala daerah atau pejabat pemerintahan. Kekurangan ini yang kemudian digunakan untuk menyerang dengan segala macam cara.

Padahal menurut pendapat saya sih ya, harusnya mendukung ya mendukung saja, tidak perlu ditambah serangan kepada calon lain, terlebih serangan itu tidak ada hubungannya dengan kapasitas kerja si calon. Paling tidak dengan cara mendukung seperti itu, hawa yang sudah panas saat ini tidak tambah panas.

Dukung mendukung paling gampang dilihat di sejumlah jejaring media sosial. Ya namanya media sosial, siapapun merasa berhak untuk menyampaikkan apa pendapatnya. Bener banget, itu hak siapapun menggunakan akun media sosialnya untuk berekspresi, berpendapat, tak peduli orang mau bilang apa, bahkan mungkin beberapa orang terkadang tak peduli apa dampaknya.

Contoh yang saya temukan ada sih yang mendukung dengan cara yang benar. Tapi nggak sedikit juga yang mendukung dengan cara yang menurut saya nggak banget.

Cara yang oke menurut saya:
“Gue mendukung calon nomor 9 karena gue yakin dia bisa memimpin dengan baik. Program yang dia tawarkan pro kepada masyarakat, lebih konkret, dan gue suka bagaimana cara dia memaparkan visi dan misinya. Dia juga murah senyum, dan enak aja liat senyumannya dia. Tapi dia juga tegas dan lebih dekat dengan warga. Ya memang sih dia sampai sekarang belum follbek IG gue, tapi nggak papalah, yang penting gue tetep suka sama dia.”

Sementara yang sekarang banyak terlihat begini:
“Gue mendukung calon nomor 9 karena menurut gue calon nomor 7 nggak banget. Apaan itu bajunya aja merknya tahu bulet, dah gitu gue follow instagramnya tapi nggak difollbek. Terus nomor 6 juga gitu, masa belahan rambutnya di kiri, kan harusnya di belakang. Nah nomor 8 tuh yang paling nggak banget, dia itu pengikut flat earth. Jelas-jelas bumi bulat, eh dia bilang bumi datar. Udah deh pokoknya semua calon yang lain tuh nggak banget, udah nomor 9 aja ya.”

Sangat kontras gaya dukungan yang pertama dan kedua. Pada contoh pertama, si pendukung fokus pada calon yang dia dukung, dan tidak sedikitpun menyinggung calon lain, apalagi mencari-cari kesalahan calon lain tersebut. Parahnya lagi, beberapa kesalahan yang dibesar-besarkan sebenarnya tak ada hubungannya dengan program atau visi-misi orang tersebut.

Kerumitan semakin terjadi ketika dukungan (sekaligus serangan) yang salah itu dituang di medsos. Pendukung dari calon lawan yang tidak terima calonnya diserang mulai menyerang balik di kolom komentar.

“Ah nomor 9 juga gitu, alisnya bengkok sebelah tuh. Kayanya sih palsu itu alisnya,” ucap salah seorang pendukung nomor 7. Belum selesai sampai di situ, pendukung calon nomor 8 tidak mau ketinggalan, juga membalas serangan dari pendukung calon nomor 9.

“Lah kan emang sebenarnya bumi itu datar. Lu aja yang mau diboong-boongin sama ilmuan jaman dulu. Sekarang sudah banyak fakta dan bukti yang ditemukan yang intinya memastikan bahwa bumi itu datar. Hidup nomor 8.”

Perdebatan makin seru, pendukung nomor 6 pun nimbrung dan lupa akan topik awal.
 “Lah, emangnya bumi itu datar atau bulat sih. Ih yang bener yang mana deh. Btw gue tetep nomor 6 yak, kalian semua tuh nothing,” kata dia.

Lalu si pendukung nomor 9 mulai menimpali komentar-komentar tersebut.
“Sejak kapan bumi yang sejak awal itu bulat terus tiba-tiba berubah jadi datar. Ada-ada aja lu, kita sejak kecil diajarin kalau bumi bulat. Begoklu!”

“Lu yang begok, siapa bilang sejak awal bumi bulat. Jelas-jelas bumi nggak pernah bulat, tapi datar. Coba lu googling dulu dah soal bumi datar. Dasar lu illuminati,” balas pendukung calon nomor 8.

“Lah kok lu malah bilang gue illuminati. Lu tuh fansnya Awkarin. Pokoknya bumi bulat,” jawab pendukung calon nomor 9.

Satu-satunya komentar yang tidak ikut menyerang datang dari pendukung nomor 10. Ya walaupun sama saja, tak ada hubungannya dengan visi misi calon.

“Sist, bro, gue 10. Btw nggak penting ah, mending mampir ke akun gue ya. Ada banyak tas branded loh, sama kacamata yang bisa ngepoin mantan juga kita ada lho. Mampir ya,” ucap dia.

Pendukung nomor 6 balik lagi. “Eh, emangnya iluminati apaan sih? Terus hubungannya sama Awkarin apaan? Gue pendukungnya Awkarin soalnya, sama Young Lex juga deh. Btw hidup nomor 6 ya kalian semua nothing,” jawab dia.

Dibalas lagi sama pendukung nomor 8, dan dibalas lagi sama pendukung calon nomor 9 dan mereka akhirnya terus berdebat antara bumi bulat atau bumi datar yang sebenarnya sudah di luar konteks dukungan terhadap calon mereka. Selain itu yang satu menuding sana sebagai illuminati, dan yang sana menuding balik dengan penyesatan. Sementara si pendukung nomor 6 terus menimpali dengan pertanyaan tidak penting sambil terus mengatakan “kalian semua nothing”.

Mereka terus berdebat dan bertengkar sampai akhirnya calon yang menang dan memimpin kota mereka adalah pasangan nomor 10. Sementara si pendukung calon nomor 8 dan nomor 9 yang sebenarnya sudah berteman sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) ini udah saling unshare dan block di medsos. Tragis…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...