Saat
pelaksanaan Pilkada, fenomena yang banyak terlihat adalah dukung
mendukung pasangan calon pemimpin dengan cara membenci. Pasangan yang
didukung akan dipuja dan dibela mati, lalu pasangan lainnya siap-siap
dimaki.
Banyak dukungan yang diberikan membabi
buta, dan siapapun yang mengkritik calon yang dia dukung, maka orang itu
akan jadi musuh bersama (ini gaya pertemanan jaman remaja nih). Bersamaan dengan itu, ketika kita mendukung salah satu pasangan calon
pemimpin, kita juga lebih senang melihat kekurangan calon lain yang
tidak ada hubungannya dengan pekerjaan dia sebagai kepala daerah atau
pejabat pemerintahan. Kekurangan ini yang kemudian digunakan untuk
menyerang dengan segala macam cara.
Padahal menurut pendapat saya sih ya,
harusnya mendukung ya mendukung saja, tidak perlu ditambah serangan
kepada calon lain, terlebih serangan itu tidak ada hubungannya dengan
kapasitas kerja si calon. Paling tidak dengan cara mendukung seperti
itu, hawa yang sudah panas saat ini tidak tambah panas.
Dukung mendukung paling gampang dilihat di
sejumlah jejaring media sosial. Ya namanya media sosial, siapapun
merasa berhak untuk menyampaikkan apa pendapatnya. Bener banget,
itu hak siapapun menggunakan akun media sosialnya untuk berekspresi,
berpendapat, tak peduli orang mau bilang apa, bahkan mungkin beberapa
orang terkadang tak peduli apa dampaknya.
Contoh yang saya temukan ada sih yang
mendukung dengan cara yang benar. Tapi nggak sedikit juga yang mendukung
dengan cara yang menurut saya nggak banget.
Cara yang oke menurut saya:
“Gue mendukung calon nomor 9 karena
gue yakin dia bisa memimpin dengan baik. Program yang dia tawarkan pro
kepada masyarakat, lebih konkret, dan gue suka bagaimana cara dia
memaparkan visi dan misinya. Dia juga murah senyum, dan enak aja liat
senyumannya dia. Tapi dia juga tegas dan lebih dekat dengan warga. Ya
memang sih dia sampai sekarang belum follbek IG gue, tapi nggak papalah,
yang penting gue tetep suka sama dia.”
Sementara yang sekarang banyak terlihat begini:
“Gue mendukung calon nomor 9 karena
menurut gue calon nomor 7 nggak banget. Apaan itu bajunya aja merknya
tahu bulet, dah gitu gue follow instagramnya tapi nggak difollbek. Terus
nomor 6 juga gitu, masa belahan rambutnya di kiri, kan harusnya di
belakang. Nah nomor 8 tuh yang paling nggak banget, dia itu pengikut
flat earth. Jelas-jelas bumi bulat, eh dia bilang bumi datar. Udah deh
pokoknya semua calon yang lain tuh nggak banget, udah nomor 9 aja ya.”
Sangat kontras gaya dukungan yang pertama
dan kedua. Pada contoh pertama, si pendukung fokus pada calon yang dia
dukung, dan tidak sedikitpun menyinggung calon lain, apalagi
mencari-cari kesalahan calon lain tersebut. Parahnya lagi, beberapa
kesalahan yang dibesar-besarkan sebenarnya tak ada hubungannya dengan
program atau visi-misi orang tersebut.
Kerumitan semakin terjadi ketika dukungan
(sekaligus serangan) yang salah itu dituang di medsos. Pendukung dari
calon lawan yang tidak terima calonnya diserang mulai menyerang balik di
kolom komentar.
“Ah nomor 9 juga gitu, alisnya bengkok sebelah tuh. Kayanya sih palsu itu alisnya,”
ucap salah seorang pendukung nomor 7. Belum selesai sampai di situ,
pendukung calon nomor 8 tidak mau ketinggalan, juga membalas serangan
dari pendukung calon nomor 9.
“Lah kan emang sebenarnya bumi itu
datar. Lu aja yang mau diboong-boongin sama ilmuan jaman dulu. Sekarang
sudah banyak fakta dan bukti yang ditemukan yang intinya memastikan
bahwa bumi itu datar. Hidup nomor 8.”
Perdebatan makin seru, pendukung nomor 6 pun nimbrung dan lupa akan topik awal.
“Lah, emangnya bumi itu datar atau bulat sih. Ih yang bener yang mana deh. Btw gue tetep nomor 6 yak, kalian semua tuh nothing,” kata dia.
Lalu si pendukung nomor 9 mulai menimpali komentar-komentar tersebut.
“Sejak kapan bumi yang sejak awal itu
bulat terus tiba-tiba berubah jadi datar. Ada-ada aja lu, kita sejak
kecil diajarin kalau bumi bulat. Begoklu!”
“Lu yang begok, siapa bilang sejak
awal bumi bulat. Jelas-jelas bumi nggak pernah bulat, tapi datar. Coba
lu googling dulu dah soal bumi datar. Dasar lu illuminati,” balas pendukung calon nomor 8.
“Lah kok lu malah bilang gue illuminati. Lu tuh fansnya Awkarin. Pokoknya bumi bulat,” jawab pendukung calon nomor 9.
Satu-satunya komentar yang tidak ikut
menyerang datang dari pendukung nomor 10. Ya walaupun sama saja, tak ada
hubungannya dengan visi misi calon.
“Sist, bro, gue 10. Btw nggak penting
ah, mending mampir ke akun gue ya. Ada banyak tas branded loh, sama
kacamata yang bisa ngepoin mantan juga kita ada lho. Mampir ya,” ucap
dia.
Pendukung nomor 6 balik lagi. “Eh,
emangnya iluminati apaan sih? Terus hubungannya sama Awkarin apaan? Gue
pendukungnya Awkarin soalnya, sama Young Lex juga deh. Btw hidup nomor 6
ya kalian semua nothing,” jawab dia.
Dibalas lagi sama pendukung nomor 8, dan
dibalas lagi sama pendukung calon nomor 9 dan mereka akhirnya terus
berdebat antara bumi bulat atau bumi datar yang sebenarnya sudah di luar
konteks dukungan terhadap calon mereka. Selain itu yang satu menuding
sana sebagai illuminati, dan yang sana menuding balik dengan penyesatan.
Sementara si pendukung nomor 6 terus menimpali dengan pertanyaan tidak
penting sambil terus mengatakan “kalian semua nothing”.
Mereka terus berdebat dan bertengkar
sampai akhirnya calon yang menang dan memimpin kota mereka adalah
pasangan nomor 10. Sementara si pendukung calon nomor 8 dan nomor 9 yang
sebenarnya sudah berteman sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) ini
udah saling unshare dan block di medsos. Tragis…

Komentar
Posting Komentar