Langsung ke konten utama

Vandalisme FPI pada Bendera Merah Putih Salah Kaprah



Beredar sebuah video yang berasal dari demonstrasi sebuah ormas di markas Mabes Polri, Jakarta, Senin kemarin. Dan dalam video tersebut ada satu hal yang membuat penulis tidak habis pikir, yaitu bendera Indonesia yang dibawa oleh para demonstran dicoret dengan tulisan bahasa Arab. Sehingga bendera Indonesia tersebut jadi mirip bendera Arab Saudi. Penulis menduga yang ditulis di bendera itu kalimat Syahadat umat Islam (mohon maaf jika salah). Dan penulis yakin bahwa kalimat tersebut memang mempunyai makna suci dalam ajaran agama Islam. Namun dalam konteks simbol negara maka penggambaran tulisan ini pada bendera Indonesia menjadi salah kaprah.

Kesakralan bendera kita sudah diatur dalam undang-undang nomor 24 tahun 2009. Pada pasal 24 poin d disebutkan
“Setiap orang dilarang mencetak, menyulam, dan menulis huruf, angka, gambar atau tanda lain dan memasang lencana atau benda apapun pada Bendera Negara”

Wong untuk mencorat-coret gaya alay yang lagi naik gunung saja kita tidak boleh, apalagi jika menggambarnya hingga jadi mirip bendera negara lain, nanti bisa disalahartikan. Coba bayangkan kita menggambar simbol negara lain di bendera kita (terlepas dari nilai spiritualnya, misalkan Bintang Daud gitu) pasti akan terjadi kehebohan dan kontroversi. Mungkin para pendukung ormas ini berpikir dengan menggambar simbolisasi bahasa Arab maka mereka akan ‘aman’ saja, tapi sebetulnya ini malah menjadi poin kritikan. Karena ini malah menunjukkan ada rasa sentimen kepada rasa nasionalisme asli Indonesia dengan berlindung dibalik simbol Agama yang juga sering digunakan pada bendera-bendera negara Timur Tengah. Udah gitu hebatnya mereka melakukan ‘pelecehan’ bendera ini di depan kantor Polisi sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya lagi. Bukan Maeennnn! Entah mereka bernyali besar atau memang tidak tahu apa yang mereka lakukan, jujur penulis sudah tidak paham lagi.
Apakah mereka benar-benar loyal kepada NKRI dan nilai-nilainya, atau mereka warga Indonesia yang loyal terhadap Arab Saudi dan negara Timur Tengah pada umumnya?

Apalagi sekarang sudah banyak dugaan-dugaan bahwa ormas-ormas radikal ini juga menjadi semacam sayap pasukan dari grup-grup teroris radikal yang memang banyak bersemayam dari Timur Tengah, dan kebanyakan dibekingi oleh oknum-oknum dari Arab Saudi. Selain itu jika melihat track record pendiri ormas radikal yang ada di Indonesia, hampir bisa dipastikan mereka memiliki koneksi atau hubungan tertentu dengan pihak negara Arab Saudi. Dan doktrinasi ajaran mereka kepada para pengikutnya adalah salah satunya dengan Arabisasi. Sehingga tak heran dari bahasa macam Fitsa Hats, hingga bendera pun mungkin secara alam bawah sadar mulai terpengaruh oleh budaya Arab. Dan ini tidak bisa kita bilang sepenuhnya salah, hanya saja menunjukkan ketidakpekaan dan kebutaan ideologi mereka sendiri. Hufh jadi panjang gini tulisannya.

Oke, sebagai penutup sekali penulis ingin mengingatkan bahwa bendera adalah simbol sakral nasionalisme Indonesia. Bukan nasionalisme bangsa Arab, bukan nasionalisme Agama atau suku tertentu, tapi nasionalisme seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Sehingga mempermainkan simbol Bendera apalagi mengotak-atiknya menjadi seperti bendera negara lain adalah tindakan yang tidak bertanggungjawab dan tidak nasionalis. Terlepas dari simbol apapun yang ingin dilampirkan, masih ada cara untuk menunjukkan simpati kita tanpa harus menodai bendera yang sudah dipertahankan dari jaman engkong, buyut, atau mungkin orang tua kita sekalian melalui darah dan doa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...