Langsung ke konten utama

MAAFKAN AKU PAK RIZIEQ

Saat NU mengeluarkan "Islam Nusantara" Pak Rizieq menghina dg memelestkan menjadi ANUS (aliran Nusantara), apa PBNU pernah menghina FPI?

GUS DUR di caci maki dg segudang hinaan, apa PBNU pernah mencaci pak Rizieq?

Ketika KH. Said Aqil Sirajd di hina dg sebutan LIBERAL, SESAT, SYIAH oleh pak Rizieq dan sebagian anggotanya, apa pernah Kyai Said membalasnya?

Saat Pancasila di Plesetkan jadi pancagila dan pantat cina oleh Pak Rizieq apa pernah PBNU mengkritik pak Rizieq?

Bukankah Tokoh Tokoh yg Pak Rizieq hina adalah ulama warga Nu? dan bukankah  Pancasila itu adalah dasar negara yg telah NU perjuangkan sejak dulu?

lantas apa salah jika saya merasa Marah? Sedih? Tersinggung?

Saya sendiri tidak pernah mencaci pak Rizieq, tapi saya juga enggan memanggil dia habib. Bagi saya habib adalah gelar sakral dan tak bisa sembarangan di sematkan kepada setiap dzuriah Rosulullah. Jika ada dzuriah nabi yg hobi mencaci, kasar, dan penuh amarah lantas apa pantas dia mendapat gelar habib? Rosulullah yg aku ketahui adalah dia yg di bibirnya tersungging senyuman dan wajah penuh ketentraman.

Ada yg berkata " Habib rizieq adalah orang yg berani berdak'wah dg cara Nahi Munkar" lantas ku jawab:

"BENARKAH BERDAKWAH NAHI MUNKAR ITU HARUS DI BARENGI CACI MAKI DAN AMARAH?"

Silahkan hina saya jika anda merasa tersinggung atas tulisan saya!

-Warga NU-                      

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...