Langsung ke konten utama

Menjaga Persatuan Tangkal Provokasi di Media Sosial

Upaya pemerintah dalam menampung aspirasi masyarakat, mendapat kritikan dari berbagai pihak. Hal ini berkaitan dengan sejumlah aksi unjuk rasa bertajuk Aksi Bela Islam jilid I, II hingga III yang dilakukan sebagian masyarakat muslim Indonesia yang dimotori oleh beberapa ormas Islam seperti FPI, HTI, IM, dan beberapa kelompok lainya. Kritikan terhadap pemerintah semakin tajam seiring dengan pemberitaan sejumlah media kawakan dan media kepentingan yang ingin memperkeruh suasana dengan menguatkan sentimen agama. Akibatnya kondisi ini memaksa pemerintah mengambil kebijakan dengan memblokir beberapa situs yang memprovokasi isu SARA.

Meskipun pasca Aksi Bela Islam jilid I, II hingga III pemerintah, khususnya penegak hukum telah membuktikan bahwa kasus Ahok masuk ke meja hijau, sejumlah isu negatif cenderung provokatif terus bermunculan di media sosial. Situasi ini pun semakin menguatkan dugaan ada upaya oknum kelompok kepentingan untuk mempelintir isu tersebut dengan isu SARA bahkan sebagai aksi protes dan mendiskreditkan pemerintahan Jokowi. Hal ini masih kental terlihat, karena masih terdapat di media sosial yang terus mengeksploitasi tuduhan pengalihan isu pada kasus Ahok, seperti penangkapan teroris "bom panci" hingga candaan "om telolet om" dianggap sebagai pengalihan isu.

Bahkan yang saat ini terus berkembang adalah permasalahan TKA asal Tiongkok yang dipelintir sedemikian rupa sebagai upaya pemerintah memasukkan pengaruh Tiongkok di Indonesia. Situasi ini pun mengingatkan pada suasana Pilpres 2014, dimana Presiden RI Jokowi dianggap sebagai antek-antek Tiongkok. Tuduhan kejam melalui media sosial yang menyebut pemerintah pro PKI juga terus muncul di sosial media.

Masyarakat diharapkan dapat bijak dalam mengkonsumsi informasi yang diberitakan media, terutama berkaitan dengan hal-hal sensitif yang mengandung unsur SARA. Terlebih jika dilihat upaya oknum kelompok kepentingan yang membesarkan isu ini menjadi alat untuk mendiskreditkan pemerintah, masyarakat diharapkan tidak mudah terprovokasi. Aksi ini ditegaskan oleh para petinggi dan ulama yang memimpin, dilakukan dengan tujuan untuk memprotes pernyataan Ahok, tidak ada upaya untuk menyudutkan bahkan menyalahkan pemerintah.

Hendaknya media juga ikut memberitakan hal-hal yang positif kepada masyarakat agar aspirasi dapat ditampung dan disalurkan dengan sebagaimana mestinya. Namun oknum kelompok kepentingan akan tetap berupaya mengubah arah haluan dan opini masyarakat bahwa aksi ini ditujukan untuk pemerintah, sehingga kesadaran masyarakat akan pentingnya memilah informasi dan memelihara kerukunan antarumat beragama menjadi kunci agar suasana kondusif tetap dapat dijaga di tengah masyarakat.

Oleh : Raja (Pengamat Sosial dan Politik Indonesia) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...