Langsung ke konten utama

Rekaman Percakapan Firza Husein dan Rizieq Shihab Ramai di Jejaring Medsos



Jakarta -  Sebuah situs kembali menghebohkan jagat pengguna medsos. Kali ini situs Gerilyapolitik.com  membeberkan sebuah transkrip dan rekaman...

Gerilyawan menerima video-video terkait perselingkuhan Rizieq Shihab Imam Besar FPI dan Firza Husein, Ketua Yayasan Solidaritas Sahabat Cendana (YSSC).

Gerilyawan mengirimkan wawancara dengan Anonymous terkait hal ini

Gerpol: Halooo

Anonymous: wa’alaikum salam

Gerpol: ha-ha-ha Anonymous juga religius?

Anonymous: 😊 saya muslim tapi bukan FPI. Saya benci kemunafikan, Patrialis Akbar tinggal nunggu waktu

Gerpol: maksudnya, video PA ada?

Anonymous: adaa….

Gerpol: Ok nanti saja, terkait video2 Rizieq, mengapa anda membongkarnya?

Anonymous: saya benci kemunafikan, apalagi pake daster agama, Rizieq sdah terlewat batas, saat Rizieq serang Ahok, saya tahan diri, masa bodoooo ini politik. Politik taek! Tapi saat Rizieq mau jadi Imam Besar Umat Islam Indonesia, kirim baiat kemana2, ini sudah keterlauan, cukup sudah dia menipu umat Islam di Indonesia, apalagi ujung2nya Imam Besar Umat Islam Indonesia mau dipake sbg politik. (Trailer Video Perselingkuhan Rizieq Shihab dan Firza Husein)

Gerpol: tujuan politik gmn?

Anonymous: Rizieq mengincar jabatan politik, ini soal 2019, Rizieq punya cita2 Presiden Syariah, mau menegakkan NKRI Bersyariah, mau mengembalikan Piagam Jakarta. Rizieq mau mendirikan Republik Islam Indonesia. Baca saja tesis dia soal sikapnya pada Pancasila, dia mau versi Pancasila Piagam Jakarta, Pancasila Bersyariah. Tapi munafik, kelakuan dia tidak syariah, tapi syahwat. Cukup Rizieq menipu umat Islam di Indonesia dengan berdaster agama, dia preman berjubah. (Perselingkuhan Rizieq Shihab dan Firza Husein (bag 1)

Gerpol: Video selingkuh Rizieq dianggap kampanye hitam krn Rizieq melawan pemerintah sekarang?

Anonymous: anonymous tdk berurusan dengan politik. Fuck Politics!!! Tokoh2 munafik, pemerintah tiran, zholim, akan berhadapan dengan Anonymous! Kami sedang menyiapkan serangan pd Donald Trump terkait kebijakan2nya. Fasis! Politisi2 busuk di Indonesia, birokrat2 korup, tokoh2 munafik yg memperdagangkan agama, tinggal nunggu giliran!!!

Gerpol: jadi anda bukan pendukung Ahok atau Jokowi?

Anonymous: Saya pendukung Firza Husein yang dibuang oleh Rizieq Hahahaha…kalau kami dukung Ahok, kami sudah sebarkan video itu bulan Oktober, itu politik, kami tidak ikut2, tapi karena Rizieq uda keterlauan, mau jadi Imam Besar Umat Islam, agama Islam dan Umat Islam mau terus dia pake buat kepentingan pribadi, kelakuannya yang munafik, kami harus lawan! (rekaman telp Firza Husein yang curhat ke temannya soal kelakuan Rizieq Shihab. Firza ngamuk mau buka-bukaan)

Gerpol: soal Jokowi?

Anonymous: Jokowi harus hati2 dengan orang2 di lingkarannya…. terutama yg “mantan2”

Gerpol: maksud “mantan”?

Anonymous: mantan yg terkait dgn kekuasaan sebelumnya, khususnya yg Orde Baru.

Gerpol: kapan video lanjutan Rizieq Firza dikirim?

Anonymous: secepatnya….

Gerpol: kapan?

Gerpol: kapan?

Gerpol: halooo??

Gerpol: halooo???

Gerpol: assalamualaikum???

Anonymous: wa’alaikum salam

Gerpol: kapan???



Wah, tambah ngeri aja nih. Semoga segera ada klarifikasi dari pihak terkait. Buat pembaca, mari kita berkhusnudzon dahulu terkait video menyangkut iamma besar FPI Rizieq Shihab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...