Langsung ke konten utama

Propaganda FPI : Anti FPI Disebut Menyerang Islam

Dulu, ketika masih jarang orang yang berani mengkritik FPI, pengkritiknya akan disebut menyerang Islam. Itu apabila pengkritiknya non muslim. Khusus bagi yang Islam, ada tambahan, munafik, pembenci keturunan Nabi, syiah, sesat, liberal, antek aseng-asing. Rizieq Shihab seolah Nabi. Semua hal tentangnya tak boleh dikritisi. Suci tak tersentuh hukum apapun.

Sekarang, sudah banyak yang berani bersuara. Orang-orang mulai melihat substansi persoalan. Meskipun begitu, masih banyak juga pembela garis kerasnya.

Ancaman anti islam ini menyalahi logika. Jika teman saya, Birgaldo Sinaga misalnya, punya organisasi Kristen dan ternyata dia mempunyai skandal di sana. Apabila saya kritik, tidak ada tuduhan anti Kristen pada Saya. Yang saya kritik oknum. Misalnya lagi, jika Wayan Arthenia punya organisasi Hindu, kemudian dia main anarkis. Apabila saya kritik organisasinya, tidak ada tudingan menyerang Hindu untuk saya. Namun jika saya kritik Rizieq Shihab, FPI, HTI, dan organisasi intoleran lain, langsung kena cap auto kafir, syiah, sesat dan seterusnya.

Ada saja orang-orang yang berpikir ruwet, sehingga untuk memahami hal sederhana malah ribet. Banyak orang yang diam melihat anarkisme, terorisme, banalisme, karena mereka berpikir, ada nama Islam di sana. Kita terbiasa menggeneralisir sesuatu hanya dari bungkus luarnya. Akibatnya, justru Islam sebagai agama yang kena getahnya.

Pola pikir yang ruwet itu mesti segera diubah, agar sedikit-sedikit tidak sakit hati ketika ada yang mengecam anarkisme berkedok Islam. Agar tidak ada lagi oknum yang bebas memanfaatkan Islam demi bisnis mereka. Karena yang dikritik itu oknumnya, organisasinya, bukan Islamnya.

\FPI bukan Islam. Jikapun ketua dan pengikutnya beragama Islam, tidak berarti mereka berhak mewakili Islam sebagai agama. FPI ya FPI, mereka oganisasi yang memanfaatkan nama Islam. Mereka boleh menafsirkan Islam, tapi tidak boleh memaksakan penafsiran itu. Mereka tidak boleh mewakili Islam secara general. Ini negara bangsa (nation state), bukan negara agama atau golongan tertentu.

Banyak orang awam yang terjebak dalam pemahaman pendek ini. Melawan arogansi Rizieq diyakini sebagai melawan Islam. Menolak organisasi anarkis semacam FPI dianggap menyerang Islam. Orang-orang awam ini gampang tersulut. Mereka marah dengan mudah. Hanya karena salah memahami Islam sebagai agama.

Selepas peristiwa penistaan Soekarno dan Pancasila oleh Rizieq Shihab, FPI membuat framing. Mereka menggiring opini massa. Bahwa kasus penistaan simbol dan lambang negara itu adalah upaya menekan Islam. Bahwa pengaduan terhadap Rizieq secara hukum adalah kriminalisasi terhadap ulama. Mereka menyebar gerombolan undur-undur yang diberi nama, pasukan cyber. Membuat pembelokan fakta, melakukan report massal, dan memaki sesukanya di beranda Facebook orang lain.

Tidak cukup di sana, kemudian mereka mengadu massa dengan polisi. Presiden dengan Panglima TNI. Mereka sengaja memisahkan Polisi dari kewenangannya sebagai aparat hukum. Membuat seolah-olah Polisi berpihak pada ormas lain. Tujuannya jelas, agar mereka mendapat simpati publik. Dengan begitu, mereka ingin membalik keadaan dengan menyatakan, FPI dizalimi.

Melihat upaya adu domba tidak berhasil, mereka turun grade lagi, mengambing-hitamkan Kapolda Jabar dan Kapolda DKI Jakarta. Sebentar lagi mungkin turun ke Polres dan Polsek sekalian.

Saya yakin, orang-orang waras dan intelek akan mudah memisahkan diri dari klaim sepihak FPI ini. Yang cinta damai dan toleran akan merasa risih. Namun saya sadar, orang-orang awam yang tercuci otaknya dengan doktrin, sulit menghindari provokasi. Saya muslim, saya juga tidak terima jika agama saya dijelek-jelekkan. Tentunya dengan mengajak dialog mencari jalan keluar yang baik, jika memang ada masalah. Bukan adu kekuatan massa dan menggeneralisir.

Yang dilakukan FPI sebaliknya. Mereka melakukan sweeping, mengintimidasi umat beragama lain, pamer kawanan, melakukan intervensi hukum. Mereka bertakbir dengan amarah meluap-luap di jalanan. Mereka meyakini Islam sedang dilemahkan oleh aparat. Padahal para polisi dan orang-orang waras itu sebagian besar juga muslim. Namun muslim selain mereka mungkin juga dianggap musuh.

Orang-orang waras akan dengan mudah mengatakan, FPI bukan Islam. Ia hanya organisasi yang dikomandoi oleh Rizieq Shihab. Bukan representasi dari Islam sebagai agama. Ajaran kekerasan FPI adalah kesalahan tafsir mereka terhadap Islam. Secara ekstrem, bentuknya ya terorisme itu.

Perlakuan anarkis FPI justru akan membuat Islam rendah dan nista. Mereka menggambarkan Islam begitu bengis, menang-menangan, dan anti hukum. Baru saja hal itu ditunjukkan oleh mereka. Dalam demo yang dilakukan di Mabes Polri, mereka membawa bendera yang dicoret dengan kaligrafi Arab dan gambar pedang bersilang gaya padang pasir. Jadi, pembenaran yang dilakukan Rizieq atas pelecehannya itu hanya kamuflase. Lasykarnya telah menunjukkan itu. Mereka memang tidak menghormati Negara beserta seluruh simbol dan lambangnya.

Ia yang sekarang merengek-rengek menyatakan mengidolakan Soekarno, sedang menggunakan siasat playing victim. Jika orang lain melanggar etika, cepat-cepat dilaporkan, diintervensi, kalau perlu melanggar Undang-undang Pilkada. Giliran dirinya yang melanggar hukum, minta dimediasi.

FPI yang melakukan itu, tapi umat Islam seluruhnya yang kena. Bayangkan malunya ketika media asing menyorot hal itu.

Sejak dulu saya selalu kritis, karena menyadari, kebhinekaan cepat atau lambat akan terancam. Sekarang terbukti, friksi terjadi di mana-mana. Banyak daerah keberatan dengan sikap arogan FPI. Mereka tak mau diam lagi. Mereka melawan. Untungnya umat beragama lain bersikap dewasa. Mereka tidak menggeneralisir. Bayangkan jika mereka membabi-buta seperti FPI. Negara ini dalam bahaya. Oleh karena itu, FPI ya FPI, mereka bukanlah wakil Islam. FPI bukan islam.

Jika masih ada yang memaksakan diri mewakili Islam dengan cara kekerasan dan intoleransi, yakinlah mereka itu orang-orang awam yang labil imannya. Orang-orang anarkis seperti itu tidak layak mewakili Islam, bahkan agama apapun di muka bumi.

Kajitow Elkayeni
https://seword.com/author/kajitow-elkayeni/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...