Langsung ke konten utama

Kapolri: Potensi Kerawanan di Pilkada 2018 Tidak Terlalu Tinggi

Kapolri: Potensi Kerawanan di Pilkada 2018 Tidak Terlalu Tinggi
Kapolri Jenderal Tito Karnavian meyakini Pilkada 2018 akan berlangsung dengan aman. Tito mengatakan potensi kerawanan dalam pilkada tahun ini tak tinggi.

"Khusus masalah pilkada, kesimpulan utama kita, bahwa potensi kerawanan pilkada ini sebetulnya tidak terlalu tinggi," kata Tito di Auditorium STIK/PTIK, Jl Tirtayasa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (24/1/2018).



Keyakinan pilkada akan berjalan aman didasari pengalaman pilkada serentak 2015 yang melibatkan 200 provinsi, kabupaten/kota. "Di tahun 2015 saja ada 200 lebih (wilayah yang) pilkada, berlangsung aman," sambung Tito.



Tito mengatakan TNI dan Pemerintah pun sepakat dengan kesimpulan prediksi pilkada tersebut. 

"Catat poinnya, Polri-TNI dan Pemerintah yakin bahwa Pilkada di 171 wilayah ini berlangsung aman. Kenapa? Karena yang pertama, tidak banyak partai-partai oposisi mengusung calon yang sama," jelas dia.

"Ada beberapa antara partai oposisi dan Pemerintah yang calonnya berbeda, artinya latar belakangnya tidak bisa dieksploitasi masalah agama dan lain-lain seperti di Jawa Barat," lanjut Tito.

Kemudian hal lain yang membuat pilkada akan berjalan aman adalah kesadaran masyarakat untuk berdemokrasi semakin tinggi. Terakhir, tambah Tito, TNI-Polri diyakini kompak dalam hal netralitas.

"Yang kedua kita yakin masyarakat juga kesadarannya sudah makin tinggi untuk berdemokrasi. Yang ketiga ini poin terpenting, Polri dan TNI Kompak, selagi TNI-Polri Kompak sampai bagian terbawah, insyaallah akan aman. Dan Polri dan TNI akan berada di posisi netral," tutup Tito. 
(rvk/rvk)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...