Langsung ke konten utama

Beredar Broadcast Jokowi soal Pilkada DKI, Istana: Berita Bohong

Beredar Broadcast Jokowi soal Pilkada DKI, Istana: Berita Bohong
Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, memberi penjelasan soal beredarnya screenshot sebuah pesan berantai (broadcast) di media sosial yang seolah memuat pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pesan tentang adanya ancaman dari sejumlah kelompok terkait hasil Pilkada DKI Jakarta dinyatakan sebagai berita bohong (hoax).

"Istana Kepresidenan memastikan bahwa pesan berantai tersebut merupakan berita bohong," kata Bey lewat keterangan tertulisnya, Selasa (2/1/2018).

Di dalam pesan tersebut, Jokowi disebut menyampaikan pidato di Stadion Utama Senayan di depan seratus ribu hadirin. Jokowi disebut menyampaikan pidato itu sebagai tanggapan atas maraknya aksi demonstrasi pasca-Pilkada DKI Jakarta.

"Perlu ditegaskan, Presiden Joko Widodo tidak pernah menghadiri acara dimaksud, apalagi menyampaikan pidato yang ada dalam pesan tersebut. Dapat dipastikan pula bahwa penyebaran pesan berantai tersebut merupakan ulah pihak yang tidak bertanggung jawab," tutur Bey.

Dia mengatakan Jokowi dalam berbagai kesempatan selalu mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menghentikan maraknya penyebaran berita bohong atau hasutan yang mengandung fitnah dan kebencian.

"Marilah bersama-sama kita hentikan penyebaran berita bohong atau hasutan, yang mengandung fitnah dan kebencian di media sosial. Mari kita tunjukkan nilai-nilai kesantunan dan nilai-nilai kesopanan sebagai budaya Indonesia," kata Presiden di Istana Merdeka, 8 Juni 2017. Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, memberi penjelasan soal beredarnya screenshot sebuah pesan berantai (broadcast) di media sosial yang seolah memuat pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pesan tentang adanya ancaman dari sejumlah kelompok terkait hasil Pilkada DKI Jakarta dinyatakan sebagai berita bohong (hoax).

"Istana Kepresidenan memastikan bahwa pesan berantai tersebut merupakan berita bohong," kata Bey lewat keterangan tertulisnya, Selasa (2/1/2018).

Di dalam pesan tersebut, Jokowi disebut menyampaikan pidato di Stadion Utama Senayan di depan seratus ribu hadirin. Jokowi disebut menyampaikan pidato itu sebagai tanggapan atas maraknya aksi demonstrasi pasca-Pilkada DKI Jakarta.

"Perlu ditegaskan, Presiden Joko Widodo tidak pernah menghadiri acara dimaksud, apalagi menyampaikan pidato yang ada dalam pesan tersebut. Dapat dipastikan pula bahwa penyebaran pesan berantai tersebut merupakan ulah pihak yang tidak bertanggung jawab," tutur Bey.

Dia mengatakan Jokowi dalam berbagai kesempatan selalu mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menghentikan maraknya penyebaran berita bohong atau hasutan yang mengandung fitnah dan kebencian.

"Marilah bersama-sama kita hentikan penyebaran berita bohong atau hasutan, yang mengandung fitnah dan kebencian di media sosial. Mari kita tunjukkan nilai-nilai kesantunan dan nilai-nilai kesopanan sebagai budaya Indonesia," kata Presiden di Istana Merdeka, 8 Juni 2017. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...