Langsung ke konten utama

AWAS SEPAK TERJANG LIMA PROVOKATOR PEMECAH BELAH UMAT

Indonesia merupakan negara kaya. Keberagaman suku, agama, dan ras menjadi keunikan tersendiri. Pelangi keberagaman tersebut sudah terjalin sejak ratusan tahun yang lalu. Namun kini, kedamaian hidup masyarakat terusik. Puncaknya dengan munculnya lima orang tokoh yang kerap menggunakan isu SARA untuk memecah belah dan mengadudomba masyarakat. Tidak hanya memprovokasi masyarakat, mereka juga mengadudomba warga dengan pemerintah.
Dikenal dengan Islam garis keras dan radikal, kelima orang ini menggunakan isu SARA dengan khilafah serta Anti Pancasila. Menjelang Pilkada 2018, kelima tokoh tersebut makin giat dalam melakukan aktivitas propaganda khilafah dan HTI.
Seharusnya, Pilkada sebagai ajang pesta demokrasi, dapat dimaksimalkan untuk mencari pemimpin yang dapat mempersatukan umat dan menjaga amanah dalam memajukan bangsa, bukan justru menjadi pemantik provokasi perpecahan antar umat beragama.
Kelima orang ini adalah:
1. Idrus Sambo (Ketua Umum Presidium 212 / Ketua Panitia Tamasya Al-Maidah)
2. Hasri Harahap (Ketua FUI Bogor Raya)
3. Misbahul Anam (Penasihat DPP FPI)
4. Al Khaththath (Sekjen FUI)
5. Slamet Maarif (Juru Bicara FPI)
Masyarakat diminta waspada terhadap kelima orang tersebut karena mereka merupakan provokator ulung yang ingin memecah belah umat melalui ceramah maupun opini-opininya yang sesat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...