Langsung ke konten utama

Dana Padat Karya Cash Jokowi Cair Rp 12 Triliun Bulan Ini

Dana Padat Karya Cash Jokowi Cair Rp 12 Triliun Bulan Ini
Program padat karya cash for work yang digulirkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dimulai. Rencananya, dana sebesar Rp 12 triliun atau 20% dari total dana desa 2018 sebesar Rp 60 triliun, akan cair Januari ini

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan pencairan anggaran dana desa untuk program padat karya cash sebesar 20% sesuai keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Selama ini mekanismenya 60% langsung dibayar melalui APBD pada April. Sekarang kita bagi Januari yang 20% sehingga tidak ada alasan Januari tidak ada aktivitas karena tidak ada uang, yang 40% tetap April, yang sisanya tetap," kata Sri Mulyani di Komplek Istana, Jakarta, Rabu (3/1/2017).


Dengan pencairan di awal tahun, Sri Mulyani berharap pemerintah daerah (Pemda) bisa menyelesaikan atau mengesahkan APBD dengan cepat.

"Kita harapkan, dana desa itu kan pencairannya lewat apbd, kita harap pengesahan apbd bisa tepat waktu saja. Harusnya Desember sudah sah," jelas mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Sementara itu, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Eko Putro Sandjojo, menambahkan, program padat karya cash bakal menyerap tenaga kerja di daerah.


"Program cash for work ini kita memberikan lapangan pekerjaan di desa-desa yang cukup banyak. Dari Kementerian PUPR saja ada tambahan Rp 11 triliun, dari Kementerian Desa ada Rp 18 triliun, dari Kementerian Pertanian sekitar Rp 10 triliun. Jadi itu akan ada penempatan penyediaan lapangan pekerjaan di desa-desa sehingga diharapkan dapat meningkatkan daya beli masyarakat," kata Eko.


Sementara itu, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, anggaran Rp 11 triliun dari PUPR untuk program padat karya untuk rehabilitasi 250 daerah irigasi.

"Tadi saya laporkan minggu ketiga Januari ini dan itu untuk rehabilitasi irigasi di 250 DI (daerah irigasi)," kata Basuki. (hns/hns)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...