Langsung ke konten utama

TIGA TAHUN JOKOWI-JK, PEMBANGUNAN INSTALASI FARMASI DAN PENYEDIAAN OBAT PUSKESMAS MENJADI LEBIH BAIK


Kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) tak terasa sudah menginjak usia tiga tahun. Banyak kalangan yang menilai kerja dari mereka selama ini, sudah banyak memuaskan masyarakat Indonesia.Tiga tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla terdapat peningkatan yang signifikan pada pembangunan infrastruktur dan mutu layanan kesehatan. Peningkatan juga meliputi pembangunan Rumah Sakit, Puskesmas, pembangunan ilmu dan mutu infrastruktur kesehatan, akreditasi fasilitas kesehatan, pembangunan instalasi farmasi dan penyediaan obat di Puskesmas.
Kerja Jokowi-JK selama tiga tahun sudah menunjukkan tren positif seperti dibidang kesehatan yang semua orang harus mengapresiasi. Sementara itu,Kartu Indonesia Sehat, capaian mencapai 92,2 juta orang dari target 92,4 juta orang dan anggaran Rp25,5 triliun. Pemerintah pun menargetkan peserta Jaminan Kesehatan Nasional akan mencapai 100% penduduk pada 2019.
Berdasarkan data pada akhir 2016, jumlah fasilitas kesehatan tingkat pertama mencapai 20.708, meningkat dari posisi tahun sebelumnya yang mencapai 19.969. Sementara, jumlah rumah sakit provider JKN tahun lalu mencapai 3.249 yang terdiri atas 2.068 rumah sakit negeri dan 1.181 rumah sakit swasta.
Sementara itu, Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah absolut kematian ibu pada 2016 mencapai 4.912, turun tipis dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya 4.999 orang. Penurunan signifikan terjadi pada tahun ini karena pada semester I/2017, realisasi hanya 1.712 orang.
Tren serupa juga terjadi pada jumlah absolut kematian bayi. Pada tahun lalu, ada sekitar 32.007 bayi, turun tipis dari posisi 2015 sekitar 33.278 bayi. Pada semester I/2017, jumlah kematian mencapai 10.294 bayi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...