Langsung ke konten utama

SEDANG MANTU JOKOWI MASIH KERJA KERJA KERJA, GINI KOK FADLI ZON NYINYI

Sedang Mantu Jokowi Masih Kerja Kerja Kerja, Gini Kok Fadli Zon Nyinyir
Dlm 3 thn Pak @jokowi menikahkan 2 anaknya, tinggal 1 lg. Semua Presiden RI lain kalah dlm soal ini. Kerja kerja kerja.
Itu adalah cuitan yang diunggah Wakil Ketua DPR RI kita tercinta dari Partai Gerindra, Fadli Zon. Ia menyindir soal Presiden Joko Widodo yang kebetulan dalam tiga tahun masa jabatannya menggelar dua kali hajat menikahkan anaknya yakni si sulung, Gibran, dan kini giliran putri semata wayangnya, Kahiyang Ayu.
Entah apakah mungkin Fadli Zon sedang iri karena sebetulnya ingin segera mantu juga atau mungkin ingin jadi seksi sibuk pernikahan (nah mungkin Pak Fadli bisa minta Pak Prabowo segera mantu karena pasti akan diajak jadi panitia seksi sibuk) persoalan pernikahan anak Presiden yang kebetulan saja jatuh takdirnya dan ketemu jodohnya dalam waktu yang relatif dekat dianggapnya sebagai persoalan. Padahal meskipun menikahkan anaknya, Presiden Jokowi pun tidak melupakan tugas utamanya sebagai Presiden.
Bayangkan, usai menggelar siraman Kahiyang di kediaman pribadinya di Jalan Kutai Utara, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Presiden Jokowi langsung bertolak ke Sragen, Jawa Tengah untuk melakukan kunjungan kerja. Kunjungan tersebut dalam rangka membagikan sertifikat tanah pada warga.
Jokowi merasa tidak enak karena acara di Sragen tersebut sudah dua kali mengalami pengunduran. Sehingga mumpung dirinya berada di Solo, Ia merasa ini adalah waktu yang tepat untuk merealisasikan kegiatan tersebut.
Seusai acara di Sragen tersebut Jokowi padahal masih harus mengikuti rangkaian acara midodareni yang berlangsung hingga malam sebagai bagian dari serangkaian acara adat pernikahan putrinya.
Apa yang dilakukan Joko Widodo ini adalah bukti langsung yang menyanggah cuitan Fadli yang seolah ingin nyinyir bahwa Presiden lebih sibuk dengan urusan pernikahan anak-anaknya daripada bekerja. Tak hanya Jokowi yang harus diapresiasi, anak istrinya pun patut diberikan jempol. Mengapa?
Saya ini anak perempuan. Saat saya sedang dalam acara seperti ini tentu saya inginnya Bapak saya fokus ngurus acara saya saja bukan malah kabur sebentar untuk hal yang sifatnya pekerjaan dan tak ada sangkut pautnya dengan pernikahan saya. Kedengarannya egois memang, tapi bayangkan dengan ritme kerja seperti Presiden Jokowi pasti dalam tiga tahun ini agak sulit bagi anak-anaknya untuk punya waktu luang yang cukup lama bersama sang Ayah tanpa embel-embel urusan pekerjaan. Masak hanya meminta dua hari agar ayah fokus pada keluarga dan tak melulu berpikir tentang rakyat dan negara adalah suatu hal yang berlebihan? Saya kira itu wajar.
Belum lagi di momen seperti ini pasti banyak sanak saudara yang datang, kenalan yang sudah diniati untuk njagong manten, dll. Tentu inginnya Ayah bersama keluarga, menemui tamu, dan kalau ada waktu lowong digunakan istirahat atau bercengkerama dengan keluarga.
Ya untungnya Kahiyang dan keluarga Jokowi bukan saya sehingga mereka rela saja Bapaknya masih harus kerja meski sedang punya gawe mantu seperti ini. Ada pejabat lain yang di tengah hajatan yang mereka gelar masih menyempatkan diri bekerja?
Warga Sragen yang kebetulan mendapatkan sertifikat dari Jokowi harus banyak bersyukur dan hatinya riang sebab artinya sepenting itu mereka di mata Presiden sampai disempat-sempatkan di tengah hajatan menikahkan putrinya Beliau datang menyerahkan surat berharga tersebut. Belum tentu pemimpin lain punya pikiran seperti itu.

Semoga Presiden dan keluarga sehat selalu dan meskipun banyak yang nyinyir mereka tetap bekerja sebaik sekarang dan berbahagia. Dan semoga rangkaian acara perniakhan Kahiyang dan Bobby juga berlangsung lancar dan aman sesuai apa yang sudah direncanakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...