
Siapakah di dunia ini yang tidak ingin diperlakukan adil? Saya rasa, dari lubuk hati yang paling dalam, tidak ada satu orangpun yang mau diperlakukan tidak adil. Dalam segala hal, keadilan sebaiknya digunakan sebagai dasar dalam sendi-sendi kehidupan terutama dalam hal hukum dan pengambilan kebijakan untuk kepentingan bersama.
Dalam hukum, kita semua pasti setuju jika pedang hukum itu harus tidak pandang bulu. Tidak tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Selain dalam hal hukum, yang menjadi tak kalah penting adalah mengenai pembangunan, juga semestinya harus dilakukan secara adil.
Meskipun saya orang Jawa, tetapi menjadi tidak elok jika pembangunan hanya berfokus di pulau Jawa saja. Ini namanya tidak adil, toh bangsa Indonesia itu dari Barat sampai ke Timur. Masa iya, hanya orang Jawa saja yang dapat merasakan mulusnya jalan tol, sedangkan orang Aceh tidak.
Saya tersenyum melihat akun FB Jokowi meng-upload foto dengan tulisan” Pembagunan Infrastruktur adalah Masalah Pemerataan dan Keadilan”. Foto tersebut disertai caption “Saya sudah menghitung semua risiko ketika memutuskan sebuah kebijakan. Kalau saya mau hitung-hitungan imbal balik politik dan ekonomi, ya, membangun infrastrukturnya di Pulau Jawa saja. Praktis saya tak butuh anggaran banyak bila berfokus di Pulau Jawa. Tinggal membangun koridor ekonomi di bagian utara dan selatan sudah beres. Lebih-lebih keuntungan ekonominya jauh lebih cepat kembali ketimbang membangun infrastruktur di daerah. Namun, setelah blusukan dari Sabang sampai Merauke, saya menyaksikan ketimpangannya sudah sangat parah”.
Presiden dalam suatu negara sama saja dengan seorang ayah atau bapak dalam sebuah keluarga. Seorang Ayah sudah semestinya dapat bersikap adil meskipun tetap disertai dengan perhitungan yang matang dalam mewujudkan keadilan tersebut. Sebagai contoh, seorang ayah akan mebangun sebuah rumah bagi 5 anaknya yang akan berkeluarga. Sudah sepantasnya, jika satu rumah dibangun tingkat dua, yang lainnya juga meski tingkat dua. Bukan yang satu tingkat dua, yang satu tingkat tiga, sedangkan sisanya dibuatkan rumah geribik bambu.
Meskipun begitu, dalam mewujudkan keadilan yang bersifat kebijakan juga meski mempertimbangkan aspek-aspek lainnya. Sebagai contoh, ketika kita memberi uang jajan kepada anak kita yang sudah kuliah di universitas, dengan anak yang masih sekolah di Taman Kanak-kanak tentu berbeda. Begitu juga dengan negara dalam menjalankan hal-hal terkait kebijakan.
Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap presiden-presiden yang terdahulu, saya ingin mengatakan untuk hal keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, Jokowi merupakan yang terbaik. Sebagai contoh pembangunan infrastruktur jalan yang dibuat merata, itu sangat adil sekali. Karena infra struktur merupakan hal utama dalam kebangkitan ekonomi. Dengan infrastruktur, harga-harga kebutuhan yang didatangkan dari daerah lain dapat terjangkau karena mudahnya akses pengiriman. Bukan hanya itu, perekonomian meningkat lantaran akses mengirimkan produk ekonomi seperti hasil bumi dan lain sebagainya menjadi mudah. Nikmat apa lagi yang kau dustakan?
Tidak berhenti dalam infrastruktur jalan saja, bendungan untuk menunjang dalam upaya memperkuat ketahanan pangan juga dilakukan. Bandara hingga dermaga dibuat bagi wilayah yang memang membutuhkan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut. Bukan hanya itu saja, kawasan industri nasional juga mulai dibuat di luar pulau Jawa.
Untuk kalian yang nyinyir akan pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh Jokowi, semestinya kalian membuka hati dan menanyakan kembali mengapa anda nyinyir. Jika alasannya karena pembangunan tersebut dari dana hutang, meskinya anda belajar lagi, karena semua sudah diperhitungkan oleh ahlinya. Dan semua keputusan yang diambil oleh pemerintah juga melalui persetujuan DPR dan tenaga-tenaga profesional di bidangnya.
Jika alasan anda nyinyir karena memang benci Jokowi, sebaiknya anda mengkoreksi diri, mengapa kalian begitu membenci Jokowi, padahal apa yang dilakukan pemerintahan tersebut demi kepentingan rakyat, termasuk anda juga menikmati.
Kembali saya tegaskan, di sini saya bukan penggila Jokowi yang fanatik sehingga menulis hal yang baik dari pemerintahan Jokowi, tetapi saya menulis berdasarkan fakta yang ada, bukan berdasarkan perasaan atau teori konspirasi yang tidak jelas juntrungannya. Apalagi teori konspirasi yang didasarkan pada berita hoax seperti yang biasa digunakan oleh para bani hoax.
Jika ada orang yang lebih baik dari Jokowi, silahkan adu program pada saat pilpres. Jangan sampai karena dalam program kerja kalah, lantaran menggunakan isu-isu yang dapat memecah belah persatuan bangsa seperti yang tejadi pada pilkada DKI Jakarta yang lalu.
Komentar
Posting Komentar