Langsung ke konten utama

JOKOWI MEMINTA HARGA JAGUNG TETAP STABIL UNTUK KEPERLUAN PRODUKSI LAINNYA


Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Senin (6/11).
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Jokowi menyerahkan Surat Keputusan (SK) pemanfaatan izin lahan perhutanan sosial.
Presiden Jokowi kagum dengan perkembangan produksi jagung lokal. Jumlah produksi yang terus meningkat membuat Indonesia lepas dari jerat impor.
Jokowi menuturkan, pada 2015 banyak petani jagung di Donpu, Nusa Tenggara Barat, yang mengadu kepadanya karena harga beli jagung dari petani sangat rendah. Melihat hal ini, dia kemudian mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) terkait harga beli jagung dari petani dengan harga minimal Rp 2.700 per kilogram (kg).
Bahkan impor jagung yang sempat mencapai 3,6 ton kemudian dihentikan guna meningkatkan penghasilan petani.”Kita juga menstop impor jagung, sehingga harga jagung langsung naik Rp 3500-4.000 per kg,” kata Jokowi ketika berbincang dengan petani di Desa Dungus.
“Sampai saat ini nggak ada impor. Sudah bisa disuplai produksi di dalam negeri oleh para petani,” kata Jokowi.
Menurut Jokowi, dengan harga jagung yang lebih baik saat ini semakin banyak petani yang mau menanam jagung. Ketika harga kembali jatuh di angka Rp 1.500 maka tidak akan banyak petani yang mau menanam jagung. Hal tersebut yang membuat pemerintah mematok harga jagung di tingkat petani Rp 2.700 per kg.
Meski demikian, Jokowi meminta agar petani juga tidak menjual jagung hasil produksi terlampau tinggi. Sebab jagung yang dihasilkan lebih banyak digunakan sebagai pakan ternak. Jagung juga dibutuhkan untuk keperluan produksi lainnya.
Jika harga jagung terlalu tinggi maka bisa jadi peternak marah kepada pemerintah. Untuk itu petani dan pemerintah tetap harus bekerjasama menjaga harga jagung tetap stabil, tapi menguntungkan bagi semua pihak.
“Kalau harganya (jagung) hingga Rp 7.000 nanti yang dimarahin saya lagi. Petaninya senang, peternanya ngamuk ke saya,” ujar Jokowi.
Salah satu petani di Desa Dungus, Basuki mengatakan bahwa dia sekarang lebih banyak menanam jagung pada lahan yang dipinjamkan pemerintah. Dengan harga jual yang tinggi maka banyak petani yang bercocok tanam jagung.
“Bibitnya sekarang murah. Satu kali panen kita bisa dapat Rp 20 juta,” kata Basuki. Meski demikian Basuki tidak selalu menanam jagung. Setengah hektare lahan yang dimiliki juga sering ditanam tanaman lain untuk mengganti jagung pasca panen.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...