Langsung ke konten utama

Konflik Rohingya Disebut Dapat Picu Peningkatan Teror Kawasan

Konflik Rohingya Disebut Dapat Picu Peningkatan Teror Kawasan
Jakarta -- Konflik kemanusian yang terus menerpa kaum minoritas Muslim Rohingya di Myanmar disebut dapat memicu peningkatan radikalisme di kawasan Asia Tenggara jika tidak segera dituntaskan.

Pengamat politik luar negeri, Dewi Fortuna Anwar, bahkan menuturkan bahwa Rakhine, tempat di mana kekerasan terhadap Rohingya kerap terjadi, dapat menjadi "sarang" terorisme di kawasan Asia Tenggara.

“Ini bukan pandangan saya saja. Komunitas internasional banyak yang khawatir jika warga di negara bagian Rakhine ini terus dizalimi dan aspirasi serta status mereka tidak diperhatikan pemerintah Myanmar, ini bisa memicu radikalisme bahkan jadi sarang teroris,” tutur Dewi dalam diskusi Catatan Tahun 2016 dan Harapan Tahun 2017 di Jakarta, Kamis (12/1).

Deputi sekretariat wakil presiden RI bidang politik ini mengatakan, sikap keras pemerintah Myanmar terhadap kelompok minoritas Muslim di sana bisa dimanfaatkan oleh kelompok ekstremis untuk melegitimasi aksi teror mereka.


“Jangan sampai konflik Myanmar mengikuti konflik Suriah. Ketika tuntutan kelompok pemberontak [di Suriah] malah direspons secara represif oleh pemerintahan Bashar Al-Assad, yang terjadi adalah radikalisasi dari para kelompok oposisi tersebut dengan cara yang lebih ekstrem, contohnya ISIS,” ungkap Dewi.

Sejak lama, kaum Rohingya dan sejumlah etnis minoritas Muslim lain memang kerap mendapat tekanan dari warga dan pemerintah setempat yang mayoritas Buddha.

Dalam undang-undang kewarganegaraan tahun 1982, Myanmar bahkan tidak memasukkan Rohingya ke dalam daftar 130 etnis yang diakui konstitusi. Rohingya pun tak pernah diakui sebagai warga negara.

Pengucilan etnis secara sistematis ini memicu sikap represif dan sentimen negatif dari warga Myanmar kepada Rohingya. Bentrokan yang terbaru terjadi pada awal Oktober 2016, dipicu oleh penyerangan pos polisi di perbatasan Rakhine.

Sejak serangan terjadi, bentrokan yang menargetkan kaum Rohingya semakin meningkat hingga menewaskan lebih dari 80 orang dan membuat puluhan ribu lainnya melarikan diri keluar Myanmar.

Konflik ini merupakan yang terparah sejak aksi kekerasan oleh kelompok Buddha radikal terhadap warga Rohingya pada 2012 lalu yang menewaskan 200 orang dan menyebabkan 140 ribu orang kehilangan tempat tinggal.

Dewi mengatakan, harus ada yang mampu mendorong pemerintah Myanmar untuk secara serius dan segera mengambil tindakan menangani konflik kemanusiaan ini.

Dewi mengharapkan peran Indonesia dan ASEAN untuk bisa terus meyakinkan Myanmar agar mau melindungi dan memenuhi seluruh hak warga negaranya, termasuk kaum minoritas seperti etnis Rohingya.

Dewi juga berharap, Myanmar dan negara ASEAN lainnya mau lebih terbuka dalam menyampaikan masalah internal yang sekiranya bisa merembet menjadi isu di kawasan seperti kasus Rohingya ini. Langkah ini dilakukan guna mencari solusi bersama dan memberdayakan peran ASEAN lebih besar lagi dalam menangani isu di kawasan.

“Masalah di negara ASEAN ada kecenderungan bisa merembet. Jadi bukan isu domestik saja, tapi menjadi isu regional. Diharapkan sesama negara ASEAN bisa saling merasa nyaman untuk saling terbuka karena ini demi stabilitas kawasan juga,” ucapnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...