Langsung ke konten utama

JOKOWI ZIARAH MAKAM TOKOH PKI? TIDAK MASUK AKAL, INI FAKTANYA

Jakarta – Kondisi politik di tanah air kian memanas dengan berbagai serangan politik oleh kelompok oposisi, yang tidak bosan-bosannya ingin menjatuhkan dan memfitnah presiden Jokowi. Tapi sayangnya isu yang menjadi alat untuk menyerang presiden Jokowi merupakan isu klasik dan tidak masuk diakal. apakah anda tahu apakah isu itu?  yaaa..isu PKI, Lagi-lagi PKI..apa sudah kehabisan bahan kelompok oposisi? Mungkin jawabannya iya.
Isu PKI yang menyerang Jokowi agak sedikit dibungkus dengan rapi, tapi tetap aja tidak masuk akal. Serangan politik kepada Jokowi muncul dari suatu gambar makam yang terlihat Jokowi bersama ibunya duduk didepannya, mungkin jika melihat gambar tersebut sebenarnya biasa saja karena banyak juga orang melakukan hal yang sama. Melakukan ziarah makam. Namun ini jadi beda setelah kelompok oposisi ingin menjatuhkan Jokowi dengan memberikan “bumbu” makam tersebut merupakan tokoh PKI. Itulah yang dipakai kelompok oposisi untuk mendeskreditkan Jokowi dan menghubung-hubungkannya dengan PKI.
Jika kita melihat dengan kasat mata dan faktanya, makam tersebut tertulis wafat tahun 2000, yang berarti orang tersebut yang berada didalam makam baru meninggal dunia pada tahun 2000, yang berarti telah melewati masa orde baru dan juga merasakan masa reformasi. Sangatlah tidak mungkin jika makam tersebut dikatakan tokoh PKI namun masih bisa hidup dengan tenang setelah melewati masa orde baru dan merasakan orde reformasi. Seperti kita ketahui masa orde baru sangatlah anti dengan namanya PKI. Anggota PKI aja dulu masa orde baru habis menderita dengan dikucilkan dan bahkan ada yang dibunuh, bagaimana Tokoh PKI? secara logika saja pasti hidupnya menderita dan mungkin saja sudah dibunuh karena menjadi target untuk “diganyang” pada masa era pemerintahan Soeharto. namun kenyataannya orang tersebut baru meninggal dunia pada tahun 2000 dan menjadi pengusaha mebel yang merupakan Ayahanda dari Jokowi. Tidak masuk akalkan tudingan itu.
Kemudian, jika kita lihat dengan “mata telanjang” kuburan itu terawat dengan baik dan banyak peziarahnya, pertanyaannya adalah…apa mungkin kalau itu tokoh PKI? masa bagus dan banyak yang ziarah. Tidak masuk akalkan….. makam Ketua PKI Aidit dan tokoh PKI lain aja ga jelas dimana keberadaannya. Kembali lagi tudingan dari kelompok oposisi terhadap Jokowi tidak mendasar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...