Langsung ke konten utama

DI ERA JOKOWI KENAIKAN ALOKASI BELANJA PENDIDIKAN 27,4%, KESEHATAN 83,2% DAN INFRASTRUKTUR 123,4%

Jakarta – Pemerintah Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) mengusung konsep Nawa Cita dalam pemerintahannya. Artinya pembangunan ekonomi akan dilakukan mulai dari pinggir, atau wilayah yang selama ini terbelakang.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan Nawa Cita memprioritaskan program infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.
“Pemerintah alokasikan belanja prioritas dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Alokasi belanja pendidikan meningkat sebesar 27,4% pada periode 2015 – 2017 dibandingkan 2011 – 2014. Pada 2017 alokasi capai Rp 416,1 triliun, atau sesuai konstitusi 20% dari APBN,” kata Sri Mulyani dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Tahun 2017 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (14/9/2017).
Acara ini dibuka oleh Presiden Jokowi dan dihadiri sejumlah menteri, serta perwakilan dari Kementerian/Lembaga (K/L) dan Pemerintah Daerah.
Dalam acara itu, Sri Mulyani juga mengatakan, anggaran kesehatan di masa pemerintahan Jokowi naik 83,2% sepanjang 2015-2017, dibandingkan 2011-2014. Alokasi anggarannya Rp 104 triliun, atau 5% dari total APBN.
“Pendidikan dan kesehatan jadi prioritas dari pemerintah, karena penting tingkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia). Alokasi belanja infrastruktur meningkat 123,4% pada 2015-2017 dibanding 2011-2014. Pada 2017 alokasi capai Rp 387,3 triliun atau 18% dari APBN. Anggaran ini meningkat secara signifikan dibanding tahun sebelumnya dan melalui peningkatan efisiensi belanja,” papar Sri Mulyani.
Mantan Direktur Bank Dunia ini mengatakan, anggaran perlindungan masyarakat miskin, belanja sosial, termasuk dana desa juga menjadi perhatian pemerintah.
“Saat ini jumlah perlindungan sosial Rp 180,1 triliun atau 8,6% dari APBN pada 2017. Namun apabila dana desa masuk yang meningkat serta beberapa pos utk masyarakat miskin jumlahnya mencapai Rp 273,7 triliun atau 13,5% dari APBN 2017. Untuk 2018 presiden telah sampaikan ke dewan jumlahnya meningkat dekati Rp 300 triliun,” papar Sri Mulyani.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...