Langsung ke konten utama

4000 perguruan tinggi bersatu lawan radikalisme

Jakarta -Sebanyak 4.000 perguruan tinggi di Indonesia akan hadir dan mengikuti deklarasi kebangsaan perguruan tinggi melawan radikalisme tanggal 25-26 September 2017 di Provinsi Bali.
Panitia pengarah aksi kebangsaan PT melawan radikalisme Prof Dr H Zainal Abidin MAg mengemukakan bahwa di rencanakan 3.000 sampai dengan 4.000 perguruan tinggi se-Indonesia hadir dan berikrar melawan radikalisme.
“Ia, panitia pengarah telah menyusun materi ikrar atau deklarasi kebangsaan yang nantinya akan di ikrarkan oleh semua peserta yang hadir,” ungkap Prof Zainal Abidin MAg di Jakarta saat dihubungi dari Palu, Selasa siang.
Aksi kebangsaan PT melawan radikalisme direncanakan akan di hadiri oleh Presiden Joko Widodo, beserta pejabat negara lainnya di Bali.
Rektor Intsitut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu ini menyatakan panitia pengarah telah menuntaskan lima poin penting yang menjadi materi deklarasi.
“Ia, jadi ada prolog sebelum masuk ke lima poin ikrar tersebut. Prolog itu sebagai pengantar perguruan tinggi berjanji dan berkomitmen terhadap poin-poin yang dideklarasikan,” sebutnya.
Ia menggambarkan bahwa materi deklarasi lawan radikalisme didalamnya merupakan konsensus dan konstitusi negara serta tekad melawan radikalisme.
Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Palu ini mengatakan, selain deklarasi atau ikrar lawan radikalisme, kegiatan lainnya yakni seminar tentang radikalisme dan intoleransi.
Seminar tersebut, sebut dia, menghadirkan pakar-pakar dan pejabat negara sebagai narasumber, antara lain Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Ulama Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...