Langsung ke konten utama

Surat Terbuka Istri Gusdur kepada Kaum Nahdliyin

Pasca persidangan Ahok yang menghadirkan Ketua MUI sekaligus Rais Aam PBNU, KH Ma'ruf Amin, masyarakat Indonesia kembali gaduh. Sang Tokoh Utama terdakwa penista agama, Ahok kembali tidak bisa mengontrol ucapannya. Ucapan Ahok saat ini menyinggung kaum Nahdliyin yang selama ini cenderung menarik diri pada aksi Bela Islam I, II, dan III. Kemarahan kaum Nahdliyin ini membuat bangsa ini kembali gaduh.

Kemarahan tersebut bisa dimaklumi jika melihat pernyataan Ahok dan kuasa hukum yang berlebihan. Hanya saja isu ini kemudian diekploitasi secara masif oleh kelompok-kelompok kepentingan untuk menggalang massa ataupun dukungan, baik itu kepentingan politik pilkada hingga kepentingan GNPF MUI yang akan menggelar aksi 112. Meskipun kedua belah pihak sudah maaf memaafkan, isu ini terus berkembang secara liar baik di sosial media ataupun media mainstream.

Menyikapi kondisi tersebut, istri salah satu tokoh NU yakni bu Shinta Nuriyah (istri Gusdur) menyampaikan sebuah tulisan yang mengajak kaum Nahdliyin tidak terprovokasi ataupun terbawa arus kepentingan kelompok-kelompok yang berkepentingan

Tulisan tersebut, sebagai berikut:

Wahai Saudaraku Barisan Ansor
Barisan yang selalu kami hormati

Ketika marwah istri gurumu yang engkau hormati jelas-jelas diinjak-injak oleh gerombolan laskar lapar dimana kegaranganmu?

Mengapa kalian terlihat garang menyikapi ucapan ahok kepada KH. Ma`ruf Amien yang ada unsur kebohongan di ruang pencari kebenaran?

Ahok hanya berucap tajam karena mencari keadilan dan minta maaf, namun engkau sudah teriak garang "siaga satu" siap perangi ahok.

FPI sudah jelas-jelas menginjak-injak marwah istri almarhum Gus Dur tapi kalian adem ayem saja seperti buta dan tuli tak tahu apa-apa.

Tidak sadarkah kalian hanya dijadikan prajurit penggebuk si tuan Cikeas setelah Laskar FPI terkapar dihajar oleh kebenaran?

Mengapa kalian tega menjual nama NU untuk turun derajat sejajar dengan FPI yang menghamba ke tuan perobek kesatuan bangsa?

Nama NU terlalu besar dan mahal untuk dilacurkan pada kepentingan politik PKB, apalagi pada tuan pemecah-belah bangsa ini.

Insyaflah saudaraku, NU adalah pilar terakhir yang mampu menegakkan Indonesia sebagai negara yang harmoni dalam keberagaman.

Jangan kalian hancurkan pilar itu saudaraku, keutuhan negara ini terlalu mahal harganya untuk kalian gadaikan pada politik murahan.

Renungkan itu saudaraku!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...