
Sudah dari kemarin-kemarin saya ingin
menuliskan artikel ini, namun baru kali ini saya benar-benar ingin
menuliskannya. Saya membaca beberapa postingan di akun media sosial
kelompok sebelah yang rupanya baru memposting beberapa informasi yang
sudah basi.
Misalnya informasi tentang penolakan
sholat jenazah bagi pendukung Ahok hingga berbagai informasi berkenaan
dengan kedatangan Raja Salman. Dalam postingan-postingan tersebut saya
mendapati beberapa indikator adanya fitnah-fitnah yang ditujukan untuk
kelompok pendukung Ahok.
Pembela Toleransi dan Kebhinekaan Membenci Arab
Fitnah yang pertama ini sangat
menggelikan. Ini jelas menunjukkan kelompok sebelah sama sekali tidak
paham dengan apa yang disuarakan oleh pembela toleransi dan kebhinekaan. Sejauh yang saya
ketahui,pembela toleransi dan kebhinekaan tidak membenci Arab (dalam artian negara).
Kelompok in memiliki logika yang waras
dan mata yang jeli untuk membedakan mana sesapian onta berdaster dan
bersorban dengan celana/daster cingkrang dan mana Arab (orang Arab dari
negara Arab) yang sesunggunya.
Yang diselalu dikritik itu adalah orang
Indonesia yang memiliki adat dan budaya Indonesia tetapi menerapkan adat
dan budaya Arab berlebihan. Bukan orang Arab dari negara Arab. Konteks
yang mudah dipahami seperti ini saja masih gagal dipahami oleh mereka,
tidak heran jika mereka gagal paham pada hal-hal krusial lain. Astaga….
Sepertinya kelompok sebelah memang mulai
rancu dan memiliki tingkat kepercayaan diri berlebih. Kelompok sebelah
sepertinya sudah tidak bisa membedakan diri mereka dengan orang Arab,
sehingga pendukung Ahok mengkritik orang Indonesia kearab-araban
berlebihan malah dikira membenci Arab. Asssshhhh sudahlah.
Pembela Toleransi dan Kebhinekaan Bungkam Karena Uang
Fitnah yang kedua ini lahir setelah banyak
beredar informasi kedatangan Raja Salman ke Indonesia. Mendengar kabar
Raja Salman datang dengan membawa uang ratusan triliun, kelompok sebelah
membully Pembela Toleransi dan Kebhinekaan bungkam. Mereka keheranan mengapa kelompok yang dinilai anti Arab tidak menolak kedatangan Raja Salman yang
membawa uang ratusan triliun.
Dalam hal realistis jelas diketahui bahwa
angka ratusan triliun itu adalah angka perkiraan Jokowi tentang besarnya
nilai invetasi oleh Raja Salman. Masih dalam kadar realistis, Raja
Salman dinilai sengaja berinvestasi untuk membantu peningkatan
perekonomian Arab yang mulai merosot akibat jatuhnya harga minyak. Masih
dalam kadar realistis lagi, Raja Salman juga akan ke China dan sudah
lama menjalin kerjasama bilateral dengan China.
Nah, untuk area tidak realistis,
kedatangan Raja Salman dikarenakan tertarik dengan aksi 212, penistaan
agama, ingin membebaskan Indonesia dari China, dan ingin bertemu dengan
Rizieq maupun Ampera. Duh, ini alasan dibuat-buat, tak terbukti, kok
masih PD fitnah-fitnah.
Terus, kenapa kelompok sebelah tidak
memberi cap pada Raja Salman penganut komunis China meski sudah jelas
ada kerjasama antara Arab-China?
Tidak takut Raja Salman membawa bau-bau
komunis meski sudah jelas ada hubungan antara Arab dan China? Blunder
kan? Negatif mulu sih mikirnya!
Pendukung Jokowi-Ahok tidak bungkam hanya
terhadap kerjasama bilateral antara Indonesia dengan Arab, namun juga
bungkam terhadap kerjasama bilateral Indonesia-Jepang,
Indonesia-Autralia, dan bahkan Indonesia-China. Mereka bungkam untuk
berbicara negatif dan nyinyir, karena mereka tahu kerjasama bilateral
tersebut digunakan untuk kepentingan bangsa, bukan kepentingan
segelintir manusia pada golongan tertentu.




Pembaca Seword.com tentu bisa membedakan sendiri mana otak yang bisa buat mikir waras dan mana otak yang terbungkam.
Bermental Pelacur
“Kami: Menolak investasi China karena faktor ideologi*. Mendukung investasi Arab karena faktor ideologi*.
Anda: Mendukung investasi China demi cinta
buta pada junjugan semata. Mingkem terhadap investasi Arab karena
faktor uang semata (padahal Anda selama ini paling rajin berkoar-koar
anti Arab anti Wahabi).
Sekarang kita paham: Siapa yang masih punya ideologi dan siapa yang bermental pelacur.”

Lalu, apa tanggapan kelompok sebelah
tentang kerjasama Arab dan China? Gak ada tuh, mungkin pengetahuannya
belum nyampe sana atau pura-pura tidak tahu biar nggak ada nafsu untuk
mengatakan Arab berpotensi komunis karena kerjasama dengan China.
Ah sudahlah, ketawa saja. Blunder kok dipelihara!
Komentar
Posting Komentar