
Menurut KBBI Penistaan itu adalah cercaan,
makian, perbuatan (perkataan dan sebagainya) untuk menista. Diambil
dari kata dasar ‘nista’. Kalau ternista, itu artinya dalam keadaan
direndahkan, dihina, atau dicela.
Ahok yang dituduh telah menista agama
karena perkataannya di Kepulauan Seribu besok (hari ini) akan kembali
menjalani sidang dugaan penistaan agama. Sidang kali ini adalah sidang
ke 11. Kita tentu sudah hectic dan capek mengikuti sidang-sidang ini. 10
sidang pertama jauh dari bermutu. Ruang sidang seakan dipermalukan
dengan kehadiran orang-orang yang…yeah you know lah!
Bagi saya pribadi, menuduh Ahok telah
menista agama hanya dengan mengutip sepotong kalimat dari keseluruhan
pidato Ahok di Kepulauan seribu sebetulnya jelas-jelas menunjukkan ke-biongo-an kita. Apalagi bagi mereka yang sampai hari ini terus menerus menuntut tak ada juntrungannya. Bila tak paham arti kata biongo, silakan tanya ke orang Manado apa artinya. Biongo
tingkat dewa ini tergambar jelas dari prilaku norak dan mau menang
sendiri yang dipertunjukkan orang-orang ini. Sudah tahu proses
pengadilan sementara berjalan, masih saja nggak sabaran
kepengen Ahok cepat-cepat dijebloskan ke penjara. Atau supaya Ahok
segera di-nonaktifkan. Serius, saya mau bilang Anda norak dan lebay deh!
Indonesia butuh membangun. Jakarta butuh
membangun. Pilkada ini juga, sudah berkali-kali saya pernah tuliskan,
sejatinya bukanlah segala-galanya. Anda tidak akan mati hanya karena di
pilkada ini Anda kalah atau menang toh. Sama sekali nggak. Jadi jangan
lah apa-apa itu maunya semua dipolitisasi, bahkan agama dan ayat sucipun
dipolitisasi – Itu justru adalah penghinaan dan pelecehan terhadap
agama dan kitab suci loh.
Anies sendiri pernah ngomong ke Pandji (menurut Pandji di acara Mata Najwa), bahwa katanya Anies pernah berpesan begini, “Masih ada kehidupan setelah Pilkada…”
Benar sekali itu mas. Makanya, untuk mereka – mereka di luar sana yang
semakin liar, tahan diri dikit lah. Jadi begini. Sederhana saja deh,
nggak usah menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan hanya demi
sebuah Pilkada DKI. Buat apa juga itu demo, demo, demo terus terusan,
emangnya kalian gak ada kerjaan lain apa? Tapi ya sudahlah, itu tentu
hak dan kebebasan Anda semua untuk menyuarakan apa yang hendak Anda
suarakan.
By the way, begini loh ya, kalau
kita mau sedikit jujur, sebetulnya kita ini manusia berdosa yang penuh
kekurangan dan kelemahan, barangkali justru adalah orang-orang yang
sudah terlalu sering menistakan apa yang selama ini kita anut dan
percayai, sudah menista keimanan dan keagamaan kita. Jadi dengan
demikian Anda jangan takabur lalu kesombongan itu muncul. Jangan pula
menjadi orang munafik seolah-olah diri Anda yang paling berahlak.
Berteriak-teriak sok merasa diri paling suci. Anda dan saya bisa jadi
adalah penista agama numero uno. Nomor satu. Lalai dan kerap
abai memeriksa diri sendiri karena terlalu jumawa menuduh orang lain
sebagai penista, yang harus dihukum seberat-beratnya.
Ingat, setiap kita yang mengabaikan
perbuatan baik bagi sesama manusia sesungguhnya adalah orang-orang yang
menista ajaran agamanya sendiri. Hitung sendiri, sudah berapa kali Anda
SUDAH MENISTAKAN ayat suci dan agama yang Anda anut itu. Melecehkan dan
acuh tak acuh terhadap keimanan serta keagamaan yang Anda amini dan
imani? Jangan-jangan sudah tak terhitung banyaknya ya?
Anda tidak berbuat kebajikan dan tak
pernah memberi sedekah, Anda tidak membagi kasih dengan sesamamu yang
menderita, berarti Anda juga sudah menista ajaran agamamu, apapun agama
yang Anda anut. Anda sudah berbuat baik bagi orang lain, namun lalu
kemudian Anda korupsi gila-gilaan, habis itu Anda tanpa rasa bersalah
tersenyum manis di layar televisi sambil melambai-lambaikan tangan dan
berujar “Potong telinga saya kalau saya korupsi satu rupiah pun”,
maka itu tandanya Anda sudah menista ajaran agamamu. Mana ada agama
yang mengajarkan orang untuk maling, mencuri uang bukan milik sendiri,
atau korupsi? Nggak ada itu!
Jadi, masikah ke-biongo-an Anda
yang selalu melihat secara sempit arti penistaan agama akan terus Anda
pelihara? Atau masikah Anda percaya bahwa kasus penistaan agama Ahok ini
murni ataukah kasus ini memang sengaja dimunculkan dan dipolitisasi
sedemikian rupa untuk kepentingan politik, dan kepentingan Pilkada DKI?
Halah….anak bau kencur saja pasti bakalan ngeh kok. Bahkan kura-kura saja pasti ngeh
kalau ini adalah politik busuk segelintir, atau bergelintir-gelintir
orang saja demi menumbangkan Ahok yang kian hari kian tegar.
Betapa dekat sebetulnya diri kita dengan
segala bentuk dan manifestasi penistaan. Hanya saja kita menutup mata
dan menutup diri meneropong itu semua. Bahasa lugasnya, kita munafik.
Buat apa Anda beragama kalau begitu jadinya? Hanya untuk seremonial
saja? Silakan Anda cuci muka dan ngaca berjamaah di cermin ukuran besar, lantas tanyailah diri Anda sendiri pertanyaan sederhana ini: Masih pantaskan diriku yang hina ini menyatakan diri manusia suci yang siap menghakimi orang lain di luar sana?
Padahal urusan menghakimi orang adalah hak prerogatif Tuhan Semesta
Alam. Dan bertanyalah pada nuranimu (kalau sekiranya Anda masih punya
itu), apakah Tuhan akan senang melihat tingkah lakumu yang sedemikian
rupa itu? Entahlah…
Makanya jangan heran kalau hari ini ada
semakin banyak orang yang memilih menjadi atheis oleh karena melihat
‘kebusukan’ dan kemunafikan kerap dijumpai dalam diri mereka yang
mengaku sangat beragama dan hidupnya dipenuhi atribut-atribut dan
simbol-simbol keagamaan. Akhirnya apa? Ketimbang repot dan direcoki
banyak hal, Tuhan pun “disingkirkan” dari kehidupan ini.
Banyak orang beragama yang ‘hanya’
kelihatan suci dari luarnya saja. Kesucian yang dialaskan pada ‘altar’
kemunafikan! Menebar kesantunan yang artifisial belaka. Tersenyum manis
dan bicara bak orator ulung di layar kaca untuk disaksikan begitu banyak
orang, membius mereka dengan rangkaian kata indah mempesona. Mampu
menghipnotis orang dengan rangkaian kata-kata indah. Tetapi kelakuan dan
tindakan tak ubah penipu-penipu jalanan dan layaknya orang-orang tak
terdidik. Mengoyak-ngoyak semangat kejujuran dalam beragama dan dalam
menjalankan tuntutan keimanan yang murni dan bebas dari politisasi.
Makanya hati-hati dengan keagamaan kita. Bicara dan berkata laiknya
orang suci padahal hanya sekedar sok suci.
Beragama atau Beriman?
Iman itu sebetulnya adalah sesuatu yang
amat berbeda dengan agama. Jikalau agama itu adalah sesuatu yang baku
dan tetap, maka iman itu berubah-ubah, bertumbuh dan berkembang. Agama
bisa nampak dari simbol-simbol seperti upacara, tempat ibadah, dan
sebagainya, maka iman itu tak nampak oleh mata jasmani kita. Agama
membungkus kita dengan peraturan, iman menuntun kita dan memerdekakan
kita.
Agama itu bergerak dalam koridor
kelembagaan sementara iman tidak melembaga dan bergerak pada koridor
hubungan. Hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia.
Perbedaannya sangat jelas. Agama adalah barang jadi, sedangkan iman itu
masih harus dibuat dan terus menerus diasah dan dipertajam,
diperbaharui. Agama bisa saja ditelan mentah-mentah dan bulat-bulat,
tetapi iman masih perlu dikunyah. Agama sudah siap saji, sedangkan iman
masih harus melalui proses dimasak terlebih dulu. Dan, saya meyakini
dengan baik bahwa Tuhan tidak melihat tingkat keagamaan Anda melainkan
tingkat keimanan Anda. Bukan seberapa beragama Anda tampil, namun
seberapa beriman Anda bertindak dan menjalani hidup ini, seperti apa
yang pernah ditulis oleh Dr. Andar.
Jadi sebelum Anda tertawa bahagia malam ini, karena besok (hari ini) akan ada demo cocoklogi 212,
dan bahwa besok masih akan ada sidang Ahok yang memang biasanya digelar
tiap hari Selasa, dengan tentu mengharapkan si penista agama itu
sesegera mungkin divonis bersalah, ada baiknya Anda juga berdoa
sungguh-sungguh minta ampun, oleh karena sesungguhnya Anda juga adalah
penista agama dan penista kitab suci tingkat maha dewa, karena Anda dan
saya kemungkinan besar bukan hanya satu dua kali merusak isi firman
Tuhan dengan perbuatan kita yang najis dan kotor, tetapi sudah berjuta
kali sadar atau pun tanpa sadar. Anda lelah? Bagus!
Sudah Penista Agama, Kafir Pula
KAFIR kalau secara semantik dan
terminologi bahasa Arab, maka menurut wikipedia Kāfir (dalam bahasa
Arab) كافر kāfir; plural كفّار kuffār) itu lebih dikhususkan pada ajaran
dalam syariat Islam yang diartikan sebagai “orang yang menutupi kebenaran risalah Islam”.
Bukan non muslim loh ya. Istilah ini mengacu kepada orang yang menolak
Allah. Sederhananya, kafir itu adalah orang yang bersembunyi, menolak
atau menutup diri dari kebenaran akan agama Islam. Itu dia.
Nah, perbuatan menyatakan seseorang kafir
disebut takfir. Menurut catatan yang saya baca, di dalam al-Quran
sendiri maka jelas terlihat kata kafir dengan berupa-rupa bentuk kata
jadinya, disebutkan tak kurang dari 525 kali. Biasanya kata kafir
diucapkan erat kaitannya dengan perbuatan yang berhubungan dengan Tuhan,
seperti umpamanya pada hal-hal berikut ini;
Mengingkari nikmat Tuhan
dan tidak berterima kasih kepada-Nya (QS.16:55, QS. 30:34), lari dari
tanggung jawab (QS.14:22), menolak hukum Allah (QS. 5;44), meninggalkan
amal soleh yang diperintahkan Allah (QS. 30:44).
Dalam beberapa literatur, kata atau
perbuatan kafir itu sendiri ada berbagai macam variannya. Orang yang
tidak pernah shalat pun dapat disebut kafir, meskipun dia beragama
Islam. Korupsi juga adalah perbuatan yang dapat disebut kafir. Mengikari
nikmat Allah juga menjadikan seseorang itu kafir.
Sekarang mari kita mundur jauh ke
belakang. Bangsa Yahudi pada masanya, akan menyebut semua agama di luar
Yahudi sebagai kafir. Jadi, kita ini di mata orang Yahudi adalah bangsa
kafir juga. Sebaliknya, dalam studi agama Kristen serta dengan meninjau
ilmu bangsa-bangsa (etnologi), maka juga jelas terlihat pendapat yang
mengatakan bahwa kafir itu adalah orang selain orang Yahudi. Dalam
bahasa Inggris disebut kaum “Gentiles”. Dalam Kekristenan juga,
orang kafir dikenal sebagai orang yang tidak ada pertobatannya,
contohnya seperti pemungut cukai pada kisah Matius 18:17 (“Heathen”). Menurut paham Yudaisme, dan dapat kita pelajari pada Perjanjian Lama Ibrani (Tanakh),
maka yang disebut kafir itu adalah bangsa-bangsa di luar Israel.
Jadi
apakah Anda masih mau mengkafir-kafirkan orang? Anda Tuhan? Anda sehat?
Jadi kita di Indonesia ini, menurut
kacamata orang Israel dan yahudi ya pasti kafir semua lah.
Ujung-ujungnya seluruh dunia akan saling kafir mengkafirkan, ini jelas
lucu dan amat menggelikkan kan ya. Dalam Kitab Bilangan 23:9 LAI
(Terjemahan Baru) tertulis demikian, “Sebab dari puncak
gunung-gunung batu aku melihat mereka, dari bukit-bukit aku memandang
mereka. Lihat, suatu bangsa yang diam tersendiri dan tidak mau dihitung
di antara bangsa-bangsa kafir.” (For from the top of the rocks I see
him, and from the hills I behold him: lo, the people shall dwell alone,
and shall not be reckoned among the nations.)
Akan tetapi, menilik Kitab Matius 5 : 22 mata kita lalu kemudian tertuju pada kalimat ini, “Tetapi
Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus
dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan
ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke
dalam neraka yang menyala-nyala”. Di sisi yang lain, pernahkan Anda tersua dengan ayat ini Q.S. 2:39? Yang berkata begini,”Adapun
orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu
penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Wa ladziina kafaruu wa
kadzdzabuu bi aayaatinaa ulaa-ika ash-haabun naari hum fiihaa
khaaliduun.)
Setelah membaca banyak bahan bacaan, saya
merasa kita ini perlu sekali mengoreksi diri kita
masing-masing demi
kebaikan bersama. Jikalau Anda boleh mengatakan kafir kepada orang lain.
Lalu kemudian saya bisa berkata kafir kepada orang lain. Lalu orang
lain itu boleh mencap orang lainnya lagi dengan sebutan kafir,
seterusnya dan seterusnya, maka di sinilah bencana itu perlahan mulai
terjadi.
Semua tentu akan merasa dirinyalah yang
paling benar. Lalu kemudian perlahan namun pasti, orang-orang akan mulai
saling mencap diri paling suci, paling mulia, paling berhak masuk Sorga
sebagai pemilik, yang lain paling banter hadir sebagai tamu saja. Sorga
pun dikapling-kapling, persis ketika orang mengkapling-kaplingkan tanah
kuburan. Memalukan. Sungguh amat sangat menggelikan.
Seorang petinju besar bernama Clasius Clay
yang kemudian menjadi mualaf dan mengganti namanya menjadi Muhammad Ali
suatu waktu pernah berkata, “Rivers, ponds, lakes and
streams – they all have different names, but they all contain water.
Just as religions do – they all contain truths”. Semua agama mengandung kebenarannya masing-masing.
Marilah kita hindari saling mengkafirkan.
Tonjolkanlah rasa saling menghormati satu dengan yang lain niscaya
hidupmu akan bahagia. Bukankah hari-hari ini kita banyak mendengar
semboyan, bahagia kotanya bahagia manusianya. Atau yang satu ini,
bahagia manusianya maju kotanya. Lain lagi yang ini, makmur kotanya
bahagia manusianya. Bahagia memang barang langka, untuk itulah maka
semua orang memperjuangkan dengan amat gigih. Kerap, perjuangan itu
berujung pada tangisan dan derai air mata. Tetapi saya amat yakin,
manusia Jakarta akan bahagia kalau dipimpin Gubernur yang benar-benar
dapat membuat warganya berbahagia lewat kerja kerasnya, bukan lewat
angan-angannya. Meskipun katanya kafir, tetapi ia berjuang untuk membuat
warganya merasakan keadilan yang sebenar-benarnya di kota besar ini.
Akhirnya, ingatlah pesan indah Khalil Gibran ini:
I love you when you bow in your mosque, kneel in your temple, pray in
your church. For you and I are sons of one religion, and it is the
spirit.
Komentar
Posting Komentar