Langsung ke konten utama

Bibit-Bibit Pemicu Intoleransi di Indonesia


Tahun 2016 diwarnai dengan banyak kasus intoleransi. Menurut catatan Mabes Polri, sepanjang tahun lalu setidaknya ada 25 kasus intoleransi di berbagai daerah di Indonesia.

"Intoleransi ini masih memprihatinkan, ada sekitar 25 (kasus) mungkin lebih ya," kata Kepala Bagian Mitra Divisi Humas Polri Kombes Awi Setiyono, seperti dikutip dari Tribunnews.com.

Awi memaparkan, aksi intoleransi sepanjang 2016 antara lain pengusiran penganut Gafatar dan Ahmadiyah pada Januari tahun lalu. Selain itu, perusakan relief salib di Yogyakarta dan relief Bunda Maria di Sleman pada Agustus.

"Ada juga kasus penolakan terhadap kaum Syiah yang dilakukan Forum Umat Islam di Jawa Tengah dan penolakan pembangunan masjid di Manado pada September 2016," tuturnya.

Program Officer Advokasi dan Riset Wahid Foundation, Alamsyah M Dja'far menerangkan, intoleransi dan pelanggaran kebebasan beragama dipengaruhi banyak faktor seperti sosial, ekonomi, politik, termasuk meningkatnya ujaran kebencian.

Sedangkan intoleransi berbasis agama terjadi dikarenakan faktor kesenjangan pengetahuan dan ekonomi. Termasuk pengaruh konflik yang ada di luar negeri.

Kasus-kasus intoleransi bisa juga dipengaruhi peraturan perundang-undangan yang diskriminatif. Pada saat yang sama, aparat pemerintah kadang bertindak melampaui kewenangannya atau berlaku diskriminatif, terutama menyangkut perkara teologis warga negara.

Awi, seperti dipetik dari detik.com, menyebut ada empat bibit pemicu aksi intoleransi. Pertama, perbedaan dalam memahami ajaran agama secara tekstual.

Pemahaman ini menghasilkan pengamalan yang berbeda sesama penganut satu agama. "Ada yang menganggap kelompoknya paling benar, menganggap yang lainnya sesat," kata dia.

Engkus Ruswana, Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia menyatakan, ibunya yang meninggal 15 tahun lalu, terpaksa di-islam-kan dulu, sebelum dikuburkan di Ciamis, Jawa Barat.
Kasus ini juga menimpa seorang penganut kepercayaan Sapto Darmo di Brebes, Jawa Tengah tahun lalu.

Menurut Engkus, selama ini kelompoknya kerap dituding tak beragama karena kolom agama di KTP kosong. Mereka dianggap tidak bertuhan, alias ateis. "Kalau sudah dianggap ateis kan dimusuhi," katanya seperti dinukil dari CNN Indonesia.

Bibit kedua, aksi main paksa oleh kalangan mayoritas. Misalnya dalam pendirian tempat ibadah agama minoritas.

Aksi lain adalah pemakaian atribut keagamaan. Aksi intoleransi dipicu oleh fatwa yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia.

"Keluarnya Fatwa MUI Nomor 56/2016 tentang hukum menggunakan atribut keagamaan non muslim pada 14 Desember 2016, misalnya, berimbas pada terjadinya kasus intoleransi di daerah," kata Awi.

Bahkan fatwa ini sempat dijadikan rujukan tindakan di dua Polres.

Bibit ketiga adalah perbedaan adat istiadat. Faktor ini menyebabkan konflik yang dilatarbelakangi fanatisme kesukuan (primordialisme).

Penyebab lain juga bisa muncul dari aparat. Adanya perbedaan persepsi di antara petugas memunculkan kegamangan aparat di lapangan.

"Kapolri sudah memberi perintah, tapi ada perbedaan persepsi di lapangan," ujarnya.

Alamsyah menyatakan, Indonesia memiliki modal besar untuk mengatasi tantangan-tantangan ini jika ada komitmen dan usaha semua pihak.

Terlebih, survei nasional Wahid Foundation bekerja sama dengan Lembaga Survei Indonesia yang dirilis Agustus 2016 lalu, meyakini 72 persen umat Islam di Indonesia menolak radikalisme.

Merujuk survei tersebut, muslim Indonesia meyakini jika Pancasila dan demokrasi merupakan modal besar bangsa menolak intoleransi. "Artinya, masyarakat kita sebetulnya mendukung toleransi," ujar Alamsyah seperti dinukil dari republika.co.id.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...