Langsung ke konten utama

Survei Indo Barometer: Jokowi 32,7%, Prabowo 19,1%, Ahok 2,9%

Survei Indo Barometer: Jokowi 32,7%, Prabowo 19,1%, Ahok 2,9%
Indo Barometer merilis survei Dinamika Pilpres 2019. Hasil survei itu menempatkan Presiden Joko Widodo sebagai calon presiden dengan elektabilitas tertinggi.

Dalam simulasi 2 nama Jokowi vs Prabowo, Jokowi unggul dengan angka 48,8 persen. Sedangkan Prabowo berada di angka 22,3 persen.

Sebanyak 17,2 persen responden belum memutuskan, 6,0 persen masih merahasiakan, 1,2 persen tidak akan memilih, dan 4,5 persen tidak menjawab.

"Simulasi ini mungkin akan ada rematch, Jokowi versus Prabowo jilid dua," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, Kamis (15/2/2018).


Di samping itu, Indo Barometer melakukan survei konstelasi umum capres 2019. Selain nama Prabowo, ada sejumlah nama yang disebut-sebut berpotensi maju sebagai capres.

Di antaranya Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Nama-nama itu muncul berdasarkan pertanyaan terbuka seandainya pilpres diselenggarakan hari ini.

Berikut ini hasil survei Indo Barometer tentang pilihan calon presiden:
1. Joko Widodo 32,7%
2. Prabowo Subianto 19,1%
3. Basuki Tjahaja Purnama 2,9%
4. Gatot Nurmantyo 2,7%
5. Anies Baswedan 2,5%
6. Agus Harimurti Yudhoyono 2,5%
7. Jusuf Kalla 2,1%
8. Ridwan Kamil 1,5%
9. Sohibul Iman 1,0%
10. Hary Tanoesoedibjo 0,8%
11. Tito Karnavian 0,7%
12. Susilo Bambang Yudhoyono 0,7%
13. Ganjar Pranowi 0,5%
14. Wiranto 0,3%
15. Deddy Mizwar 0,2%
16. Mahfud MD 0,2%
17. Khofifah Indar Parawansa 0,2%
18. Megawati Soekarnoputri 0,2%
19. Belum ada calon 2,0%
20. Belum memutuskan 15,3%
21. Rahasia 5,4%
22. Tidak jawab 6,5%

Survei dilaksanakan pada 23-30 Januari 2018 di 34 provinsi. Jumlah sampel sebanyak 1.200 responden dengan margin of error sebesar 2,83 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Metode penarikan sampel adalah multistage random sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara tatap muka responden menggunakan kuesioner.

Potensi Kuda Hitam

Indo Barometer juga membuat tiga skenario pilpres mendatang. Dari skenario yang ada, Anies disebut paling berpeluang jadi capres alternatif.

"Potensi kuda hitam ada di Anies," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, Kamis (15/2).


Dalam skenario 3 nama calon presiden, nama Anies unggul dibanding calon penantang Jokowi dan Prabowo lainnya. Dalam simulasi Jokowi-Prabowo-Anies, Anies mendapatkan persentase 2,4 persen.

Sementara itu, nama-nama lainnya yang muncul dalam simulasi 3 nama adalah sebagai berikut:
1. Jokowi-Prabowo-Agus Harimurti Yudhoyono; dengan persentase AHY sebesar 0,8 persen
2. Jokowi-Prabowo-Gatot Nurmantyo; dengan persentase Gatot sebesar 1,8 persen
3. Jokowi-Prabowo-Budi Gunawan; dengan persentase BG sebesar 0,3 persen
4. Jokowi-Prabowo-Jusuf Kalla; dengan persentase JK sebesar 0,1 persen

Menurut Qodari, salah satu faktor yang menyebabkan Anies mengungguli nama lainnya adalah saat ini ia memegang jabatan strategis di ibu kota negara. Segala kebijakan Anies di DKI Jakarta selalu mendapat sorotan.

"Karena sekarang dia megang jabatan strategis. Kemudian, media massanya banyak. PR-nya banyak. Jadi kalau Anies buat kebijakan, kemungkinan besar jadi sorotan," tuturnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Dalam Beragama, Rujukan Pertama Adalah Google Terakhir Al Qur’an

By Rohmat Tri Santoso   Sebenarnya, kita adalah makhluk-makhluk bodoh yang mau-maunya memiliki agama. Untuk menjadi pengikut pada suatu agama, termasuk Islam. Kita harus memutar otak dua puluh empat jam non stop. Merenungi. Menghayati, dan memaknai ajaran-ajaran dalam agama tersebut. Beragama. Berarti kita harus mengulik. Membedah rahasia tuhan. Menyingkap tabir yang tertutupi. Menemukan rumus-rumus tuhan. Demi mengenalnya lebih jauh. Demi memantapkan dan membimbing jiwa kita mengahadapi hidup yang njelehi ini. Cusssss. Gedeblug…. Tuhan menurunkan kitab suci pembimbing manusia ke bumi. Untuk menemukan rumus-rumus tuhan. Manusia perlu menelaah kitab suci sebagai buku manual untuk lebih dekat dengannya. Untuk mengetahui mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah. Tapi ternyata eh ternyata. Kitab suci itu terlalu kecil sebagai sumber pemaknaan tuhan. Manusia tetap harus memutar otaknya, m...