Langsung ke konten utama

Alumni 212 Beri Umroh Gratis Untuk Zaadit, Fix BEM UI Ditunggangi Politik!

Alumni 212 Beri Umroh Gratis Untuk Zaadit, Fix BEM UI Ditunggangi Politik!
Ternyata alumni 212 dan BEM UI memiliki kedekatan emosional, jiwa dan raga. Ternyata kecurigaan saya selama ini bahwa BEM UI sedang kesurupan ruh semangat 212. Ternyata tepat dugaan beberapa penulis yang membongkar keterkaitan antara Ketua BEM UI saat ini dengan PKS.
Semua menjadi terang benderang, sekaligus mendadak kelam, ketika kita tahu bahwa universitas terkemuka di Indonesia, ternyata mengalir deras darah dan semangat politisasi agama.
Terbuka lebar semua kemungkinan bahwa ada keterkaitan antara BEM UI dengan 212, Azzam Mujahid Izzulhaq. Orang ini ternyata pada tahun 2016 pernah menunggangi aksi bela agama, dan malah menyatakan fitnah kepada kamerawan Kompas TV Muhammad Guntur, saudara seimannya.
Azzam Mujahid Izzulhaq pernah menyatakan tudingan ini kepada kamerawan Kompas TV menjadi provokator dalam demo 4 November. Pada hari Sabtu 5 November 2016, Azzam Izzulhaq melakukan fitnah kepada wartawan Kompas TV, melalui akun Facebooknya. Entah ia pada saat itu sedang berada di Makkah, atau sedang ikut aksi bela agama tersebut.
Begini kalimat lengkap dari orang ini.
"Provaktor kericuhan ini, sebelumnya ditangkap aparat kepolisian setelah melakukan aksi provokasi dengan melempar botol minuman dari arah demonstran ke arah petugas keamanan. Ia mengaku wartawan salah satu media (Kompas). Tetiba, sosok wajah dan tubuhnya hadir di Kompas TV dan telah berubah status menjadi korban kericuhan." Sumber.
Namun entah karena pengecut atau ajaran yang didapatnya memang “begitu”, ia meminta maaf secara pribadi kepada Muhammad Guntur dan Kompas TV, setelah digertak oleh rekan sevisinya pada saat itu, Din Syamsuddin.
Kok semakin banyak saja ya orang-orang yang berafiliasi dengan alumni 212 yang menunjukkan gelagat yang sama? Mereka menyebarkan fitnah, lalu mereka pura-pura bodoh. Ketika ditelanjangi, baru minta maaf. Inikah mentalitas yang diajarkan agamamu? Ah, ternyata sama saja!

Bismillahirrahmanirrahim
Dengan ini saya, Azzam Mujahid Izzulhaq, bertempat tinggal di Distrik An Nuzhah Street 60 No. 11 Makkah Al Mukarramah mengucapkan terimakasih kepada Prof Dr Din Syamsuddin yg telah menyampaikan klarifikasinya terhadap postingan saya pada tanggal 5 November 2016 pukul 17.35 LT.
Bahwa sesuai atas klarifikasi dari Prof Din Syamsuddin tersebut, menyatakan bahwa saudara Muhammad Guntur, yg fotonya pertama diposting oleh Ustadz Muhammad Faizin Hasby pada tanggal 5 November 2016 pukul 03.55 LT, adalah benar-benar wartawan Kompas dan BUKAN provokator.
Atas ketergesaan dan kekeliruan yg saya lakukan, saya memohon maaf yg sebesar-besarnya kepada saudara Muhammad Guntur secara pribadi dan kepada Kompas secara company.
Selanjutnya, postingan saya yg terkait hal ini akan saya rubah menjadi "only me" untuk mencegah kembali "dibagikan" oleh pengguna yang lainnya.
Kepada Allah saya mohon ampun. Sumber.
Mohon ampun kepada Allah lewat Facebook? Silakan mohon ampun melalui doa, bukan malah melalui Facebook. Memangnya Tuhan punya Facebook?
Setelah lama tak bersua, orang ini mengikuti sekali dari jauh, mengenai apa yang sedang terjadi di Tanah Air. Seorang mahasiswa melakukan aksi one man show mengacungkan kartu kuning kepada Jokowi, mencuri perhatiannya. Entah apakah ini bentuk mencuri perhatian, atau bentuk merusak mentalitas mahasiswa. Aksi ini membuat dirinya menawarkan umroh gratis kepada Zaadit Taqwa.
Di mata Azzam Izzulhaq, pemfitnah yang akhrnya minta maaf kepada Kompas TV dan wartawannya, Zaadit Taqwa, mahasiswa UI sebelas duabelas dengan Jonru. Hahaha. Setelah menghina presiden, mereka ditawari umroh gratis? Ini adalah sebuah lelucon!
Zaadit Taqwa berhasil mencoreng wajah UI dengan tattoo permanen. Memalukan. Jika UI tetap mempertahankan orang ini, rasanya UI lama kelamaan tidak akan berbeda dengan Gerindra, PKS dan PAN. Jangan permalukan seluruh almamatermu hanya karena pihak UI acuh tak acuh terhadap hal ini.
Akhir kata, semoga saja pihak UI bisa tetap menjaga marwah dan nama besarnya sebagai universitas terkemuka di Indonesia, dengan jurusan-jurusan bergengsi, dan dengan almamaternya yang memiliki harga diri.

Apakah betul ibadah umrah bisa didapatkan dengan cara yang murah tersebut, yakni melecehkan Presiden dan pamer kebodohan di hadapan umum? Hanya Azzam, Zaadit, dan Jonru yang tahu, karena rasanya Tuhan pun tidak mau tahu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...