Langsung ke konten utama

Pemerintah Bertekad Cokok Dalang MCA

Belasan orang anggota sindikat Muslim Cyber Army (MCA) diciduk polisi karena disangka menyebar hoaks dan ujaran kebencian. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keaemanan (Menkopolhukam) Wiranto menyatakan otak yang mendalangi MCA bakal dicokok juga. "Apakah bantuan itu dukungan, penyandang dana, yang ngomporin, mastermind-nya itu akan diusut tuntas," tegas Wiranto di Jakarta, Jumat, (2/3/2018).
Dirinya meminta masyarakat bersabar menunggu hasil penyelidikan dari kepolisian soal MCA ini. Dia berharap masyarakat tidak termakan opini soal MCA ini. "Jangan berandai-andai, kalau lakukan satu opini yang dikembangkan, jangan. kita punya Lembaga negara yang bertugas," kata Wiranto.
Ditegaskannya, siapa pun yang terkait dengan MCA ini adalah bagian dari kejahatan. Pelakunya termasuk pihak di belakangnya perlu diusut tuntas oleh penegak hukum.
Sudah 14 orang ditangkap polisi karena terkait MCA. Pada hari ini, ada empat orang penyebar hoaks ditangkap di Jawa Timur karena menyebarkan isu provokatif penyerangan kiai dan isu PKI, padahal ternyata isu itu tidak benar. Salah satu dari mereka berafiliasi dengan MCA.
Polri menyatakan akan membuktikan siapa yang memesan jasa MCA. Hal ini dinyatakan oleh Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto. "Nanti akan terungkap kalau sudah didalami dan dikorek lebih dalam oleh penyidik. Insyaallah ini nanti kita ungkap tuntas," kata Setya di Markas Besar Polri, Jakarta, Kamis (1/3) kemarin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...